?

Log in

ALL IN LOVE (VIXX _VVE) Part 4

Author : NIYA_YUUCHAN

Genre : Romance comedy

Rating : Teen

created : 1 july 2016

Maincast:
- Niya As Park Ncha (OC)
- Nia Jung As Kim Lenia (OC)
- Aya As Lee Jaeya (OC)
- Ersha As Song Visha (OC)
- Silvia As Jang Leevi (OC)
- Vita As Park Hyuvi (OC)
- Cha Hakyeon (VIXX)
- Jung Taekwon (VIXX)
- Lee Jaehwan (VIXX)
- Kim Won-sik (VIXX)
- Lee Hongbin (VIXX)
- Han sanhyuk (VIXX)

"Akhhh... capeknya" ucap Ncha ketika ia masuk kedalam rumah. "Hyuvi, gomawo untuk hari ini".
"Ne eonni" balas Hyuvi. Iapun pergi ke kamarnya. Iapun mengganti seragam sekolahnya dengan piyamanya. Di meja belajar ia tiba-tiba saja melamun. "Tunggu, apa yang kulihat tadi di event itu benar hyuk??" Mengingat kembali kejadian 4jam yang lalu. Lamunannya terhenti mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Hyuvi, eonnie selesai mandi" lapor Ncha. Hyuvi menganggukan kepalanya.
"Tunggu eonnie, apa eonnie kenal dengan orang yang bernama han sanhyuk??" Tanya Hyuvi. Ncha memutar otaknya mengingat sesuatu.
"Akh, apa yang kau maksud han sanhyuk teman cosplay eonnie?? Kalau tidak salah dia satu sekolah denganmu kan??" Mata Hyuvi terbuka lebar. Ternyata orang yang tadi ia lihat memang hyuk. "Memang kenapa kau tanyakan itu??".
"Tidak eonnie" Hyuvi menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Cepat mandi, lalu tidur" Ncha pun meninggalkan kamar Hyuvi.
"Ternyata bukan mimpi. Orang yang kulihat tadi memang dia. Tapi, kenapa dia berbeda sekali. Saat di sekolah dia lebih terlihat pendiam. Senyumpun ia terlihat sangat terpaksa. Tapi tadi" Hyuvi menyimpan kedua tangannya di pipi. "Ia tertawa begitu lepas, dia banyak bicara. Entah, kenapa aku semakin suka padanya" pipi Hyuvi merona kemerahan.
Keesokan harinya Hyuvi datang lebih pagi lagi, tidak seperti biasanya. tidak selang berapa lama hyuk tiba di kelas.
"Selamat pagi" sapa Hyuvi. Hyuk terdiam menatap Hyuvi. Tanpa menjawab, ia menyimpan tas lalu melangkah pergi. "Tunggu, kok dia diam saja???" Pikir Hyuvi heran.
"Woh, hyuk selamat pagi" sapa salah satu teman mereka.
"Selamat pagi" jawab hyuk. Hyuvi mencoba menyapanya lagi.
"Selamat pagi hyuk" teriak Hyuvi. Tapi hyuk malah pergi keluar dari kelas. Membuat Hyuvi semakin bingung. Iapun memutuskan mengikutinya.
"Selamat pagi hyuk-sunbae" ucap seorang siswi kelas 1. Dan hyuk membalasnya sambil memberi senyuman.
"Tunggu, kenapa dia membalas orang lain. Sedangkan aku hanya dia anggap nyamuk lewat" ucap Hyuvi marah. "Hyuk tunggu!!! Hyuk!!!" Teriak Hyuvi. Hyuk masih tidak menjawab. Ia masih mengabaikan Hyuvi. Apa karena kemarin aku melihatmu di e....hmpp" belum sempat Hyuvi menyelesaikan kalimatnya. Hyuk terlebih dahulu membungkamnya.
"Ikut aku" tarik hyuk ke suatu tempat dimana tidak ada orang yang akan mendengarnya.
"Kenapa??" Tanya Hyuvi.
"Apa reaksimu melihatku kemarin cosplay dan beraksi seperti... ya...kau lihat ka kemari??" Tanya hyuk.
"Jurus semburan api tu.... tu..tu..." Hyuvi mempraktekan apa yang dilakukan hyuk kemarin.
"Sudah hentikan" ucap hyuk malu. "Kau merasa aneh kan???" Hyuvi menggelengkan kepalanya. "Tidak kau merasa jijik padaku???" Hyuvi menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, percuma bertanya padamu" ucap hyuk kesal, lalu pergi.
"Tapi, aku suka melihatmu kemarin" ucapan Hyuvi membuat langkah kaki terhenti.
"Aku tidak percaya, semua yang tidak mengerti diriku pada akhirnya meninggalkanku"dan iapun pergi meninggalkan Hyuvi.
"Tapi senyummu kemarin begitu tulus. Aku lebih suka dirimu yang tertawa lepas itu. Daripada harus melihatmu yang sempurna tapi tidak ada kebahagiaan didalamnya" Hyuvi menatap punggung hyuk yang terlihat semakin jauh.

============

Disisi lain jaeya yang pergi ke lorong kelas 3 sebelum bel masuk berbunyi. "Ini kan kelas senior-taekwon???" Jaeya mengintip di balik pintu kelasnya.
"Hei, anak kelas satu. Ada perlu apa??ini ruangan kelas 3. Jangan bilang kau kesini karena taekwon??" Tanya salah satu teman kelas taekwon.
"Aku, ada yang harus di jelaskan padanya. Jadi senior bisa panggilkan senior taekwon??" Tanya jaeya. Tapi raut wajah senior yang berada didepannya itu tiba-tiba terlihat berbeda.
"Ikut aku" jaeyapun ditariknya menjauhi kelas taekwon. Ia di tarik senior perempuan tadi bersama dengan kedua temannya.
"Senior... ada apa??" Tanya jaeya bingung. "Kenapa membawaku ke belakang gedung sekolah??.
"Kau mau menyatakan perasaamu kan?? Jangan bermimpi. Jelas-jelas dia akan menolakmu seperti perempuan lainnya. Lagipula dia tidak suka dekat-dekat dengan perempuan. Aku suka melihatnya itu. Jadi kuputuskan tidak ada yang boleh mendekatinya" ancam senior itu.
"Tapi aku hanya ingin berteman dengannya" jawab jaeya. "Tidak ada larangan kan untuk berteman dengan siapapun" balas jaeya.
"Tapi aku melarangnya!!!!!" Senior itu semakin marah.
"Memang senior pacarnya??? adiknya??? Kakaknya?? Atau ibunya berani melarangku berteman dengannya??" Jawab jaeya dengan berani.
"KAU!!!" senior itu menarik rambut jaeya.
PLOK...PLOKK...PLOKKK...
Semua terhenti melihat seseorang bertepuk tangan. Dan semua tertuju ke arah orang yang sama.
"Ha...ha..ha.. ha.. nice job lee jaeha" semua orang disana terkejut.
"Jaehwan-sunbae" ucap jaeya terkejut.
"Loh, kenapa berhenti?? Aku belum selesai menonton loh" ucap jaewan.
"Tidak, kau salah paham Jaehwan. Anak ini yang membuat masalah. Dia... diaa... dia... ingin kita berbuat jahat pada taekwon. Tentu saja kita marah???" Ucap salah satu senior itu.
"Tidak... aku..." jaeya berusaha membela diri.
"Begitukah??? Apa pendengaranku mulai salah??" Jaehwan mengorek-ngorek telinganya. Ia perlahan mendekati mereka dan semakin mendekat. Dan berbisik di telinga senior itu. "Bagaimana, kalau taekwon tahu ini?? Berani mengancam orang yang mau dekat dengan taekwon" wajah senior itu berubah menjadi pucat pasi. dan mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Jaehwan dan jaeya. "Jaeya... kau tidak apa-apa??" Tanya jaewhan.
Jaeya hanya terntuduk lemas."tapi aku benar-benar ingin jadi temannya. Apa benar tidak boleh??" Tanya jaeya dengan berlinangan air mata.
Jaehwan hanya tersenyum melihat gadis yang ada di depannya itu. "Tentu saja kau boleh berteman dengannya" Jaehwan mengeluarkan saputangan disakunya. Lalu melap airmata dan ingus yang ada di hidungnya.
"Senior, terima Kasih. Maaf mengotori saputanganmu, nanti ku cuci" ucap jaeya.
"Tidak apa... itu biasa ku pake untuk menyeka keringatku".
"Hah???" Jaeya berhenti menyeka saputangan itu kemukanya.
"A....tapi hari ini... aku belum pake kok" ucap Jaehwan dengan gugup.
"Tapi kok sedikit bau asem" jaeya mengendusnya.
"Mungkin itu keringatmu ha...ha...ha..." jaeya menyipitkan matanya ke arah Jaehwan. "Akh rambutmu berantakan, biar ku ikat rambutmu" jaehwan membalikan badan jaeya. Dan mulai menata rambutnya.
"Aku bisa sendiri senior" ucap jaeya.
"Sudah diam" Jaehwan melanjut menyisir rambut aya dan mengikatnya.
"Perasaan ini berbeda dengan perasaanku pada saat melihat senior taekwon. Kenapa denganku???" Ucap jaeya dalam hati.

===================

SMP SHINHWA (3-5)

"Visha, kau tidak mengganti bajumu?? Sekarang pelajaran olahraga??" Tanya teman sekelasnya.
"Aku tidak enak badan nayoung. Sepertinya perutku sakit." ucap visha sambil memegang perutnya.
"Kau sih, makan terlalu banyak" protes nayoung.
"Tidak ada hubungannya" visha masih megaduh kesakitan.
Ketika semua telah berganti pakaian. Visha'pun ikut keluar bersama yang lainnya untuk melaporkannya pada guru olahraga.
"Kau boleh pergi ke ruang kesehatan" ucap guru olahraga itu. Disaat bersamaan visha melihat sosok wonshik di sebrang sana. Sebagai catatan sma dan smp shinhwa itu berdampingan hanya ada pembatas sekat dari kawat saja yang membatasinya.
"Pak bolehkah saya duduk melihat disini?? Disini lebih menyegarkan daripada harus ke ruang kesehatan" ucap visha bohong. Gurunya hanya meniyakan saja. Dan tidak tahu alasan kenapa visha lebih memilih istirahat disana.
Segera visha berlari dimana wonshik sedang berada di atas pohon. Ia sedang tertidur dengan pulasnya.
"Oppa.... sttt...oppa" teriak visha dari bawah pohon. Tentu saja wonshik terbangun.
"Hmp???".dan iapun tentu saja terjatuh. BRUKKKK "Aduhhhh" ribtih wonshik.
"Mian oppa" ucap visha dengan menyesal.
"Akhh... visha..." wonshik melambaikan tangannya. "Kenapa kau disini??? Dan bisa tau oppa disini??" Tanyanya.
"Perutku sakit. Jadi aku tidak ikut olahraga. Oppa sendiri kenapa ada diatas pohon. Bolos yakkk???" Goda visha.
"Pelajaran membuatku pusing. Lihat rambutku saja sampai seperti ini" keluhnya.
"Oppa ngaco. Itu kan emang oppa cat sndiri".
"Hehehehe"
"Oppa berikan tanganmu?? Sepertinya tadi kau jatuh dan tanganmu terluka" visha melihat sekat pembatas itu. Tangan wonshik tidak mungkin bisa menembusnya. "Mian oppa, sepertinya aku tidak memasangnya. Tapi akan ku berikan plester ini" wonshik berdiri. "Oppa???" Menatap wonshik heran. Wonshik mengambil aba-aba mundur kebelakang dan meraih ranting pohon yag di rasanya kuat dan lalu ia melompat melewati pagar. Visha yang melihat pemandangan dibawah hanya bisa terpukau. "Indahhhhh" ucapnya dengan kagum.
"Huppp.... savee...." ucap wonshik dengan merentangkan kedua tangannya.
Untung saja semua orang disana tidak ada yang melihat wonshik melompat pagar.
"Oppa nekad" protes visha.
"Dengan begini bukankah kau bisa menempelkan plestermu??" Visha hampir tak bisa menahan gurat senyum diwajahnya. Ia senang bukan main. Wonshik melakukan itu.
"Tapi, oppa kan bisa terluka dua kali".
"Kalau begitu, pasang lebih banyak plester hihi" dengan gugup visha memasang plester itu. "Oppa dulu pernah sekolah disini juga, dan guru olahragamu itu. Hisss... hanya baik pada perempuan" ucap wonshik.
"Sampai sekarangpun masih begitu. Kasian para lelaki sering di abaikannya hihihi" visha terkekeh. "Oh, iya oppa nanti pulang sekolah apa kita bertemu mozi lagi???" Tanya visha.
"Sepertinya tidak bisa. Kemarin oppa keasikan main. Sampai lupa menjemput seseorang. Hampir saja orang yang sangat berharga bagi oppa itu dari celakai orang" penjelasan wonshik tentu saja membuat visha terkejut bukan main.
"Begitu ya" ucapnya kecewa.
"Heish, jangan murung" wonshik mengacak-acak rambut visha.
"Tidak oppa... aku tidak akan menyerah" ucapnya dengan yakin.
"Heee.... Bagus... itu baru visha yang oppa kenal" meskipun wonshik tidak tau. Tapi visha bersemangat untuk mendekati wonshik.
"Hehehe" ucap visha sambil cengengesan. Ia sampai lupa dengan sakit yang dideritanya.

==================

Bel istirahat berbunyi di sma shinhwa.
"Haloooo ketua osis mampir......" Hakyeon menyapa seluruh isi kelas itu.
"Tunggu, kenapa dia ada disini??Ncha, sejak kemarin dia sering ke kelas ini, sebelum masuk, istirahat, sebelum po ulang sekolah" Tanya teman sebangkunnya eunji.
"Sudah diamkan, paling dia hanya ingin tebar pesona. Bukankah dia seperti itu??" Ucap Ncha sambil menulis. "Lagipula aku sudah lapar ini. Jadi jangan ganggu aku. Sebentar lagi selesai".
"Tapi dia menuju kesini??"bisik eunji.
"Hah??" Ncha mengangkat kepalanya. Dan benar saja. Hakyeon sudah berada di depan mejanya, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Park Ncha" Hakyeon mengedip-ngedipkan matanya.
"Kau tidak ada kerjaan apa datang kesini. Bukankah kerjaan osis menumpuk. Ditambah kau anak kelas 3" masih dalam keadaan mencatat.
"Tapi kan ini istirahat. Ayo ke kantin bersama-sa...".
"Aku menolak" Ncha menutup bukunya. Lalu berdiri. "Ayo, eunji" ajak Ncha.
Hakyeon mengikutinya dari belakang. sesampainya di kantin. Hakyeon mengikuti Ncha dibelakangnya.
"Jadi, untuk apa kau duduk disini?". Tanya Ncha sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak... aku ingin melihatmu??" Ucapnya dengan nada manja.
"Hooo.... " jawabnya santai.
"Kau terlalu dingin padaku Ncha. Padahal kau kemarin membuatku seperti seorang Putri" Hakyeon menyentuh kedua pipinya dengan malu-malu.
"Blekieee dengar...."
"Coba lihat dia memberi nama kesayangan padaku..." ucapnya dengan malu-malu. Ncha tidak tahan dengan tingkahnya. Seisi sekolah yang makan disana tentu saja tertawa tanpa bersuara.
Ncha melanjutkan makan siangnya. Tapi Hakyeon malah hanya duduk di depannya.
"Kau tidak lapar apa?? Sebentar lagi bel masuk berbunyi" protes Ncha.
"Ah, terimakasih sudah memperhatikanku. Baiklah aku akan ambil makananku" segera Hakyeon mengambil makanan.
"hei ncha, Apa mungkin ketua osis mulai menyukaimu??" Pertanyaan eunji membuat Ncha tersedak dan terbatuk batuk. Iapun mengambil minumnya.
"Kau gilak. Aku dan dia saingan. Jadi tidak mungkinlah" ucap Ncha sambil menutupi rasa canggungnya.
Tak berapa lama Hakyeon kembali lagi. "Kenapa balik lagi????"--"ka..kaukam bisa duduk ditempat lain" tunjuk bangku kosong.
"Karena aku ingin makan bersamamu" ucapnya.
"Terserah" ucapnya acuh.
"He, Hakyeon kau menyukai Ncha???" Tanya eunji to the point. Dan itu berhasil membuat mereka menyemburkan makanan mereka masing-masing. "Kalian jorok ikh. Liat baju kalian sama-sama kotor" tunjuk eunji ke arah seragam mereka berdua.
"Menyebalkan" ucap Ncha langsung berdiri. Disusul Hakyeon dibelakangnya. "Ada apa sih denganmu, apa otakmu sedang bermasalah" ucap Ncha marah.
"Mian"
"Jangan ikuti aku" protes Ncha.
"Tapi kalau memang benar yang diucapkan eunji bagaimana???" Langkah kaki Ncha terhenti.
"Kalau memang benar, kau mau memberikan posisimu padaku??" Ucapnya membuat Hakyeon terkejut.
"Kalau begitu. Anggap saja aku tidak mengatakannya" Hakyeon pergi kearah berlawanan. Dan membuat Ncha merasa tidak apa yang dikatakannya barusan.
"Akhhhhh..... menyebabkan!!!!!!" Teriak Ncha sambil menghentakkan kakinya.

===============

Bel pulang berbunyi.
"Hongbin, ayo kita main dulu ke game center" ajak temannya.
"Tidak, aku ada keperluan. Maaf aku pulang duluan" Hongbin mengambil tasnya.
"Hongbin sepertinya sudah punya pacar. Buktinya dia lupa dengan kita. Lihat. Hongbin sekarang egois asik main sendiri" langkah kaki Hongbin terhenti sejenak.
"Baiklah baiklahhh aku ikut" ucap hongbin.
"Mungkin dia akan menghubungi jaeya, kalau dia tau aku tidak menjemput" pikir hongbin. Dan iapin bermain bersama teman-temannya.

=================

"Lenia akhir-akhir ini kau sering pulang cepat???" Taya jaeya.
"Iyah, aku ada ikut kursus senin-rabu" jelas Lenia. "Kalau begitu aku duluan" ucapnya.
"byeee... sampai besok" jaeya melambaikan tangannya.

Lenia berlari menuju ruang kelas 2 dimana kelas wonshik berada. Tapi di perjalanan di sebuah anak tangga ia bertemu dengan taekwon.
Dan leniapun membukukan badannya. Ia merasa malu jika harus memandang matanya. Ia teringat kejadian semalam.
"Kemarin, tidak ada apa-apa??" Tanya taekwon yang membuat Lenia terkejut.
"Iya, aku tidak apa-apa".
"Oh" hening cukup lama. "Sunbae mau berangkat..... "
"Sssttttttt" Lenia menutup rapat mulutnya.
"Mian".
"Mau berangkat bersama??" Ajak taekwon.
"Bolehkah???" Tanya Lenia girang. "Tunggu sebentar disini" Lenia segera pergi kekelas wonshik.
"Wohhhh leniaaa.... tunggu sebentar. Oppa sudah sebentar lagi selesai" mempercepat memasukan buku-bukunya.
"Oppa.... aku pergi bersama teman??? Jadi oppa tidak usah mengantar??? Byee.."
"Tinggu... temanmu priaa....wanitaaaa...????" Tanyanya panik.
"Hmppp he....he...hee....." segera Lenia kabur meninggalkan wonshik.
"Pasti lelaki" wonshik mengejar Lenia. Dan pada saat itu ia melihat adiknya sedang bersama taekwon.
"Senior taekwon??? Sejak kapan mereka dekat???" Pikir wonshik. "Oh... tidakkkk... kalau dia, aku tidak akan bisa membuatnya lepas dari Lenia. Dia terlalu berat untuk kusingkirkan" ucan wonshik sedih.
Sesampainya di tempat kursus. Semoa orang melihat iri pada Lenia yang bisa datang bersama-sama taekwon.
"Enak yak satu sekolah bareng. Jangan bilang kalau kau kursus karena tau dia disini" salah satu orang di sebelahnya.
"Bukannya kalian -_-)" ucap Lenia dalam hati.
"Mari kita mulai" ucap taekwon. "Aku akan memilih satu dari makanan kalian yang akan kuhabiskan. Jadi masaklah yang enak" ucap taekwon.
"Aku pasti bisa!!!" Ucap Lenia semangat.
"Kau yakin sekali??".
"Tentu saja tante!!! Aku kan disini benar-benar belajar memasak" Lenia mengembalikan ejekannya tadi. Dan itu berhasil membuat wanita disebelahnya marah.
"Okeh... kalau kau bisa membuat instruktur taekwon memakan habis punyamu. Berarti kau memang benar belajar disini. Tapi kalau sebaliknya kau harus keluar dari kursus ini" wanita itu malah memberikan tantangan pada Lenia.
"Ok, siapa takut" ucap Lenia.
"Ada apa disana ribut-ribut" tanya taekwon.
"Tidak ada apa-apa" jawab Lenia. Dan merekapun mulai memasak. Dan taekwon memantau mereka satu persatu. Dan mencicipi sedikit demi sedikit.
1,5 jam berlalu.
"Yoshhh, sudah pas" ucap Lenia. Tapi disaat ia membereskan alat memasak. Seseorang di sebelahnya berbuat curang dengan menambahkan garam banyak kedalam pancinya.
"Hehehe... rasakan" ucap wanita itu.
Leniapun menuangkan masakannya kedalam mangkok dan mulai menatanya. "Ok siapll" ucapnya semangat.
"Kau tidak mencicipinya terlebih dahulu?? Siapa tau rasanya manis... atau malah asin" ucap wanita iti terkekeh.
"Menyebalkan" ucapnya dalam hati. Leniapun mencicipinya. Dan benar saja, masakannya tiba-tiba terasa asin. "Kok bisa??? Tadi aku yakin rasanya pas" wajah Lenia menjadi pucat.
"Kenapa??" Lenia melihat kearah wanita itu.
"Pasti ini ulah mereka" pikir lenia. "Aku harus bagaimana" Lenia semakin panik.
"Kau kenapa???" Tanya taekwon sambil menarik mangkok milik Lenia.
"Andweee!!!!" Teriak Lenia.
"Kenapa???" Tanya taekwon heran. Lenia menutup telinga dan matanya. Taekwonpun menyuapi makanan itu kedalam mulutnya. Ia terdiam cukup lama.
"Dengan begini gadis tengik ini keluar dari kursus ini" bisikan wanita itu tentu saja terdengar taekwon. Tanpa pikir panjang taekwon memakan semua makanan Lenia yang asin itu. Dia memakan habis. Dan tidak berkomentar apapun. Wanita itu dan Lenia terkejut dibuatnya.
"Seniorr" Lenia tak bisa berkata-kata lagi. Melihat taekwon memakan semua habis masakannya. "Gimana, aku tidak keluar kan weeee" Lenia menjulurkan lidahnya dan mengejek perempuan itu. Dan tentu saja wanita itu kesal dibuatnya.

=========

GAME CENTER
Dimana hongbin berada. "Huooo, aku menang lagi!!!!" Teriak hongbin. Terdengar suara handphone miliknya. "Halo".
"Oppa, kau dimana??? Kau bersama Leevi??? Ini sudah malam. Tidak baik untuk anak Sd seperti Leevi malam malam di luar" hongbin terkejut setengah mati. Iapun segera pergi keluar dari game center itu.
"Hongbin kau kemana???" Teriakan temannya itu ia hiraukan. Ia terus berlari dan berlari menuju tempat dimana Leevi bersekolah.
"Bodoh.... kenapa dia tidak menelpon orang rumah" ucapnya kesal. Nafasnya memburu karena berlari.
Iapun masuk kedalam sekolah. Sekolah sudah sepi. Tapi ia tidak melihat sosok Leevi. "Leevi!!!! Kau dimana???" Hongbin mencari di sekitar lapang sekolah. "Siall, dimana anak itu???" Ucapnya kesal. "Leevi.... aku minta maaf... Leevi" seseorang menubruk tepat dibelakang hongbin.
"Oppa..." hongbin membalikan badannya.
"Kenapa kau tidak menghubungi orang rumah!!!! Dan memilih menunggu oppa!!" Teriaknya.
"Tapi oppa datang kan???" Ucapnya sambil tersenyum. Hongbin merasakan tangannya bergetar. Ia memeluk gadis itu dengan rasa bersalah.
"Mian.....oppa berjanji tidak akan melakukannya lagi" ucap hongbin. Iapun memberika mantelnya kepada Leevi. "Brrbrrrr..."
"Oppa tidak usah... oppa pasti kedinginan" Leevi melepaskan jaketnya. Lalu dihentikan oleh hongbin.
"Tidak perlu....pakailah" hongbin menggegam tangan Leevi. "Ayo".
Selama diperjalanan Leevi hanya bersenandung kegirangan.
"Ngomong-ngomong, kenapa Leevi menunggu oppa??" Tanya hongbin.
"Leevi tidak punya handphone" ucapnya polos. Dan hongbinpun membatu seketika. "Oppa kenapa berhenti???" Iapun jongkok menyesali apa yang dilakukannya hampir membahayakan gadis kecil itu.
"Mian...mian...miann...." sesal hongbin.
"Tapi aku tau, oppa pasti akan datang".
"Bagaimana kalau oppa tidak datang".
"Tidak mungkin, karena oppa orang yang paling baik" ucapannya membuat hati hongbin meleleh.
"Baiklah... besok oppa jemput tepat waktu" ucapnya.
"Janji??" Hongbin menganggukan kepalanya.
hongbinpun berdiri dan melanjutkan lagi berjalan.
"Hatsimmmm" hongbin bersin karena kedinginan.
"Oppa kedinginan??"
"Tidak apa-apa. Hatssimmm" hongbin kembali bersin.
"Tunggu sebentar" Leevi berlari.
"Kau mau kemana??".
"Beli minuman. Leevi haus!!" Teriaknya.
Beberapa menit kemudian Leevi membawa satu kaleng ditangannya. "Loh, oppa tidak dibelikan??" Merasa kecewa Leevi hanya membawa satu.
"Ops....ops..." Leevi melempar ke kanan kiri.
"Kamu...kenapa???" ucapnya.
"Oppa jongkok" hongbin mengerutkan dahinya. Leevi pergi kebelekang punggung hongbin.
"Kau minta di gendong?? Bilang dari tadi" ucapnya, hongbin'pun menggendongnya. Lalu Leevi menempelkan tangannya ke pipi hongbin.
"Oppa, apa sudah hangat??" Tanya Leevi.
Hongbin terkejut apa yang dilakukan Leevi padanya. Dia memegang kaleng panas. Agar tangannya menjadi panas. "Gomawo" ucap hongbin.
"Aku sayang oppa" ucap Leevi sambil merangkul leher hongbin. Dan hongbin tidak memarahinya seperti biasa.
.
.
.
"Oppa kecekek Leevi" akhirnya menyerah.
"Mian oppa... he...he..hee"


To be continued

ALL IN LOVE (VIXX_VVE) part 3

Author : NIYA_YUUCHAN

Genre : Romance comedy

Rating : Teen

created : 30 juni 2016

Maincast:
- Niya As Park Ncha (OC)
- Nia Jung As Kim Lenia (OC)
- Aya As Lee Jaeya (OC)
- Ersha As Song Visha (OC)
- Silvia As Jang Leevi (OC)
- Vita As Park Hyuvi (OC)
- Cha Hakyeon (VIXX)
- Jung Taekwon (VIXX)
- Lee Jaehwan (VIXX)
- Kim Won-sik (VIXX)
- Lee Hongbin (VIXX)
- Han sanhyuk (VIXX)


Keesokan harinya,
"Jaeya, Hongbin, Leevi cepat turun!!! Sarapan sudah siap" teriak ibu di bawah.
Orang yang pertama turun tentu saja Hongbin. "Loh jaeya dan Leevi blm turun??" Tanya Hongbin.
"Cepat bangunkan mereka berdua".
"Hah??? Aku lagi??" Hongbin memonyongkan bibirnya, segera ia pergi ke kamar jaeya terlebih dahulu dan membangunkannya.
"Oppa... kenapa tidak membangunkanku dr awal sih" ucap jaeya kesal.
"Siapa suruh begadang nonton kemarin malam. Dan bangunkan Leevi".
"Oppa saja yang bangunkan. Aku sedang terburu-buru ini" secepat kilat jaeya membereskan buku ke tas nya. Lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
"Hishhh.. kan belum telat. Masih banyak waktu" protes Hongbin. Segera ia ke kamar dimana Leevi tidur. "Hei, Leevi bangunlah" Hongbin menggoyang-goyangkan Leevi agar bangun.
"........." Leevi masih belum bangun.
"Aku tau kamu sudah bangun. Cepat siap-siap. Nanti aku terlambat ke sekolah" Hongbin beranjak dari tempat tidur Leevi.
"......." Leevi masih belum bangun.
"Yakkk... jangan pura-pura tidur. Oppa tau kau sudah bangun Leevi!!!" Teriak Hongbin.
"Leevi tidak mau bangun sebelum oppa mencium Leevi. Leevi kan Putri tidur" levi berbicara tanpa membuka matanya sama sekali.
"Jangan melantur. Cepat bangun anak nakal!!!!" Hongbin menarik selimut Leevi.
"Kyaaaa oppa mesum..... kyaaa" teriak Leevi.
"(-_-) oppa tidak berminat dengamu. Lihat, baju tidurmu saja piyama bergambar Larva".
"Kalau begitu haruskah Leevi memakai baju seksi???" Tanya Leevi polos.
"Ishhh.... sudah cepat turun. Dan jernihkan dulu otakmu itu" Hongbin menjitak kepala Leevi.
"(=3=) oppa pelit" Leevi akhirnya pergi ke kakamar mandi.

"Loh, jaeya makan pelan-pelan nanti kau tersedak" ucap ibunya.
"Abu havus Batang bagi bu(aku harus datang pagi bu)" sambil mengunyah sarapannya.
"Tumben??? Bukannya kegiatan anak kelas satu belum di mulai. Kenapa datang pagi-pagi??" Tanya Hongbin.
"Buban ububan obba(bukan urusan oppa)" jaeya masih sibuk memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Leevi kemarilah, cepat makan".
"Iya tante" Leevi segera duduk dan memakan sarapannya.
"Aku selesai. Ibu, oppa, Leevi aku berangkat dulu" segera jaeya pergi.
"Hati-hati di jalan Jaeya" teriak ibunya.
"Akh... iya jaeya..." ucap Leevi tiba-tiba.
"Kenapa lagi dengamu?" tanya Hongbin.
"Kemarin Leevi menulis nama di surat itu lee jae....." wajah Leevi berubah menjadi pucat.
"Surat apa?? Dan kenapa wajahmu pucat?? Jangan bilang kau berbuat uulah lagi" Hongbin menyipitkan matanya ke arah Leevi.
"Ha...ha...ha...ha... ti..tidak kok" Leevi hanya cengengesan. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan jaeya-eonnie.

Jaeya yang berlari begitu cepat ke sekolah, langsung pergi ke loker dimana anak kelas tiga menyimpan loker nya.
"Semoga taekwon-sunbae membaca surat ini" suratpun dimasukan kedalam loker jung taekwon.
"Hei, anak kelas satu ngapain di loker anak kelas tiga" Ncha yang baru saja datang untuk menyimpan sepatunya.
"Ti...tidak senior... a..aku.. salah tersasar" segera jaeya pergi dengan perasaan gugup.
"Jangan terlalu galak park-jumma".
"Terserah aku dong, ketua osis sepertimu harusnya juga tegas" ucap Ncha dengan nada sinis.
BRAKKKK
Hakyeon menutup loker mirip Ncha. Membuat yeoja itu kaget. "Yakkk... kau mem.." ketika Ncha membalikan badannya. Wajah Hakyeon sudah dekat dengannya. "A...apaaa!!!" Ucan Ncha dengn gugup.
"Kemarin kau membuatku malu. Haruskah aku membuatmu malu juga" wajah Hakyeon semakin mendekat dan terus mendekat lalu.
Jdukkkkkkkkk
"Awwwwww" Hakyeon mengaduh kesakitan. Ncha menyundul kepalanya.
"Jangan bermimpi" lalu mendorong Hakyeon. Lalu pergi meninggalkan Hakyeon.
"Sial.... " Hakyeon mengusap keningnya. "Sepertinya, aku semakin tertarik padanya" ucap Hakyeon.

=====smp sinhwa====

Hyuvi yang baru sampai di ruang kelasnya. lalu membuka pintu.
Krieeetttt
"Sepertinya aku yang pertama datang" masih terpaku di pintu.
"Sampai kapan kau berdiri???" Hyuvi kaget mendengar suara di belakangnya. Dan orang itu ternyata Han sanhyuk "Kau, tidak akan masuk ke dalam??" Tanya Hyuk.
"Ah... ma...maaf" segera Hyuvi masuk kedalam. Hyuvi heran, kenapa hyuk membawa tas besar. "Kenapa, kau membawa tas besar??" Tanya Hyuvi.
"Akh ini??? Tidak.. bukan apa-apa?" Ucap hyuk sambil tersenyum.
"Siapa, tau di dalam tas itu aku menemukan kelemahan hyuk" pikir Hyuvi. Hyuvi yang duduk tepat dibelakang hyuk terus memperhatikan isi tas itu. "Ya ampun, aku penasaran apa yang di bawanya" ucapnya dalam hati.
"Akh iya... Hyuvi ada yang aku mau tanyakan???" Hyuk membalikan badannya tiba-tiba ke arah Hyuvi. Sedangkan mat Hyuvi masih tertuju ke tas itu.
"Kau mau tanya apa???".
"Kau lihat kemana???" Tanya hyuk.
"Akhhh... mian... ta..ta...di aku hanya melamun" ucap Hyuvi gugup.
"Jangan banyak melamun, nanti kerasukan baru tau rasa" hyuk menyentil jidat Hyuvi. Hyuvi tentu saja wajahnya merona merah. Ditambah hyuk tertawa di depannya.
"Kau tadi mau nanya apa??" Tanya Hyuvi.
"Itu soal kakakmu.. aku..." seseorang datang masuk kedalam kelas. "Nanti saja" ucap Hyuk lalu berdiri dan menghampiri temannya itu.
"Tunggu, dia mau tanya apa?? Kakaku kenapa??? Ehhhh???" Banyak pertanyaan di kepala Hyuvi sekarang.

"Hyuvi...hyuviiiiiii!!!!!" Teriak visha yang baru datang.
"Kenapa kau teriak-teriak baru saja datang".
"Ada kabar baik dan buruk pagi ini" ucap visha dengan penuh semangat.
"Jadi....".
"Ta..tadi... aku bertemu dengan oppa yang kemarin. Kyaaaa senangnyaaa...." memukul-mukul bahu Hyuvi.
"Lalu kabar buruknya??".
"Dia pergi bersama dengan perempuan. Dan aku tidak tahu dia siapa (TwT) apa mungkin wonshik-oppa punya pacar yak" ucap visha dengan kecewa.
"Kalau begitu ya sudah tidak usah di kejar" ucap Hyuvi enteng.
"Ish kau ini. Sebelum janur kuning(?) Melengkung... aku akan membuat wonshik oppa berpaling padaku" ucap visha dengan optimis.
"Kemarin kau menyuruhku mundur. Kau sendiri malah lebih nekad visha" Hyuvi menatap visha.
"Aku bilang seperti itu kah?? Rasanya tidak.... ha...ha....ha".
"-_-)//"
"ya sudah, aku masuk ke kelas dulu ya,,,, byeee" segera visha keluar Dari kelas Hyuvi.
Hyuvi yang masih penasaran dengan tas itu segera mencondongkan badannya ke arah tas hyuk.
"Mian hyuk" ucapnya. Iapun meraih seleting tas itu. "Sedikit lagi" ia berhasil membuka sedikit tas itu.
"Kau mau apa???" Wajah Hyuvi berubah menjadi pucat pasi.
"A...akhhh... ak..aku sedang senam... lihat... satuu.... duaaaa...tigaaaa....kau mau ikutan??" Tanya Hyuvi.
Hyuk hanya memandang gadis itu dengan aneh. "Tidak, kau saja" tolak hyuk.
"Memalukannn" Hyuvi menyembunyikan rasa malunya.

=================

Bel Pulang telah berbunyi di sma shinhwa. Jaeya terburu-buru memasukan semua bukunya kedalam tas.
"Kau kenapa terburu-buru jaeya??" Tanya Lenia.
"Iyah..... ada urusan mendadak" segera ia mengambil tasnya lalu pergi.
Jaeya berlari ke arah belakang gedung sekolah. "Semoga senior taekwon mau datang.
Sesampainya di tempat belakang sekolah. Belum ada siapapun disana. "Loh, belum datang yak. Okeh... sebelum itu aku harus latihan dahulu" jaeya menarik nafas dalam-dalam. "Senior, terima Kasih mau datang...akh tidak tidak... terlalu formal. Senior... bisakah kita berteman??? Apa tidak terlalu to the point yak" pikir jaeya.
Krek
Terdengar suara kaki yang menginjak sebuah ranting kecil. Jaeya yakin bahwa suara itu memang taekwon yang baru datang.
Segera jaeya membalikkan badannya lalu mengulurkan tangannya sambil menundukkan kepalanya.
"Senior, terima Kasih mau datang. Namaku Lee jaeya kelas 1-3" ucapnya gugup.
"Lee jaeya....hmp" jaeya terkejut. Ia yakin suara itu bukan suara taekwon. Iapun mengangkat kepalanya.
"Si...siapa kamu???" Tanya jaeya.
"Kau tau, kepalaku sakit habis di jitak taekwon... sakit sekali...." namja itu mengusap kepalanya dan merintih kesakitan.
"A....aku tidak mengerti. Apa hubungannya dengan kepalamu di jitak denganku??" Tanya jaeya bingung.
Namja itu menyerahkan surat kepada jaeya. "Coba lihat".
"Tunggu kenapa surat itu ada padamu??? Senior mencurinya yak!!!" Ucap jaeya marah.
"Kau... kalau mau menulis nama itu yang benar. Kau tau, taekwon mengira aku yang mengirim surat itu" jaeya jadi bingung.
Dan melihat baik-baik surat itu. Disana tertulis "untuk Jung Taekwon dari lee jaehwan... JAEHWAANNNN KOK BISAAA!!!" teriak jaeya dengan kaget.
"Hahhh`~~" jaehwan menghela nafas. "Kau tau, akh dikira menyukai taekwon gara-gara surat itu. Ditambah kepalaku di jitak berkali-kali" keluh jaehwan.
Jaeya merasa bersalah pada jaehwan. "Mi...miannn...ta..tapi bukan akh yang menulis. Aku tidak tau kalau itu tertulis Jaehwan bukan Jaeya".
"Besok kau harus pergi denganku dan meminta maaf pada taekwon" ucap jaehwan. Jaeya menganggukan kepalanya.

=================

"la....la....la....la...la..la...." visha bersenandung ria berjalan sendirian. "Akhhh wonshik-oppaaaa!!!" Teriak visha tiba-tiba.
"Hmp.... Kau tau namaku???" Tanya heran wonshik.
"Ha....ha...ha... begini-begini aku bisa baca pikiran kok ha...ha...ha" ucap visha dengan asal. "Bego... mana percaya dia dengan alasan aneh seperti ini" ucapnya dalam hati.
"Daebakkk.... kau tahu namaku karena kekuatan itu???" Wonshik malah kagum pada visha.
"Ha....ha....ha.... begitulah" merasa aman karena kepolosan wonshik. "Oppa sedang mendekati mozzi??".
"Iyah.. oppa ingin sekali bermain dengan mozi. Tapi bagaimana anjing ini mau dekat yak??" Pikir wonshik.
"Coba aku dekati. Mozi ya....moziii kemarilahhh" mozi pelan-pelan mendekat kearah visha.
"Kok BISAAA....!!!!" Teriak wonshik.
"Entah, apa mungkin mozi jantan??" Mengintip jenis kelamin mozi. "Betina.... apa anjing ini suka sesama jenis??" Tanya visha. Wonshik yang gemas. Lalu mencubit pipi visha.
"Kau ini.... ada ada saja".
"Lalu kenapa??? Apa karena oppa mirip anjing dobberman" wonshik menjitak kepala visha. "Aduh oppa sakit" rengek visha.
"Jadi bagaimana aku mendekati mozi??".
"Tenang visha ada disini, buat bantu oppa dekat dengan mozi. Serahkan padaku" ucap visha.
"Hoooo.... " ucap wonshik dengan kagum.

=================

Di tempat kursus dimana Lenia belajar memasak.
"Lenia, ini apa???" Tanya taekwon.
"Orang juga tau itu makanan senior.... eh insturktur".
Taekwon mengambil makanan dan menyuapkan kedalam mulutnya. "Hoo...." dan mengambil lagi. "Hmp...." lalu hanya menggaukan kepalanya. Lalu berpindah ketempat yang lain.
"Jadi, bagaimana??" Tanya Lenia penasaran. Tapi taekwon hanya makan dan mencicipi makanan yang lain. "Setidaknya berilah respon yang aku bisa mengerti" protes Lenia. "Menyebalkan" ucapnya dengan kesal.

"Pelajaran hari ini selesai. Terima Kasih" dan taekwon pun pergi dengan meninggalkan teriakan histeris dari para muridnya disana.
"Apa bagusnya dia" ucap Lenia dengan ketus.
Ketika keluar dari tempat kursus. Lenia menunggu wonshik menjemputnya. Tapi namja itu tidak kunjung datang.
"Dimana sih oppa" ucapnya tak sabar. "Lebih baik aku pulang sendiri".
Selama ia berjalan menuju stasiun perasaannya tidak enak. Seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya. Segera Lenia masuk kedalam mini market. Bersembunyi di balik makanan. Dan mengintip apa benar dia sedang diikuti. "Yang benar saja, ternyata aku benar-benar diikuti. Dan kenapa orang itu tidak pernah kapok sih. Aku harus menelpon oppa" Lenia meraih ponselnya dan sialnya handphonenya habis batre. "Oppaaa....bagaimana ini" Lenia semakin takut. "Bagaimana caranya aku pulang" Lenia menangis. Dan tidak tahu harus bagaimana agar bisa lepas dari penguntit itu.
"Sedang apa kau disitu??" Tanya seseorang.
"Seniorrrrr taekwon... tolonggg" taekwon mengerutkan alis matanya. Dan iapun mendapat penjelasaanya dari Lenia.
"Kemari" taekwon menarik tangan Lenia. Dan membawanya keluar. Lenia bersembunyi di balik taekwon. Ia dengan jelas Melihat penguntit itu merasa kecewa ketika ia tahu Lenia bersama dengan taekwon.
Alangkah terkejutnya penguntit itu pergi berlari kearah mereka.
"Siapa kau??? Berani sekali bergandengan tangan dengan gadisku" ucap penguntit itu. Sambil menarik Lenia.
"Lepaskan... sakittt..." rintih lenka. Taekwon melihat kearah Lenia. Lenia menggeleng-geleng dengan wajah ketakutan dan melihat wajahnya yang memohon.
Segera taekwon mendorong penguntit itu dan menarik Lenia kepelukannya. "Dia pacarku" mata Lenia terbuka sangat lebar. "Kalau kau masih berada di sekitarnya kau tanggung akibatnya" ancam taekwon.
Lenia dan taekwon pun pergi meninggalkan penguntit itu sendirian.
"Tunggu, kenapa jantungku berdetak tidak karuan begini" ucap Lenia dalam hati. "Apa, mungkin aku jatuh Cinta padanya???"

To be continued--

ALL IN LOVE (VIXX_VVE) part 2

Author : NIYA_YUUCHAN

Genre : Romance comedy

Rating : Teen

created : 30 juni 2016

Maincast:
- Niya As Park Ncha (OC)
- Nia Jung As Kim Lenia (OC)
- Aya As Lee Jaeya (OC)
- Ersha As Song Visha (OC)
- Silvia As Jang Leevi (OC)
- Vita As Park Hyuvi (OC)
- Cha Hakyeon (VIXX)
- Jung Taekwon (VIXX)
- Lee Jaehwan (VIXX)
- Kim Won-sik (VIXX)
- Lee Hongbin (VIXX)
- Han sanhyuk (VIXX)


"Jaeya, sepertinya ini tempatnya" tunjuk Lenia ke arah gedung yang ada di depannya.
"Unh..." jaeha dan leniapun mencari tempat duduk yang masih kosong untuk mereka berdua. "Itu ada dua yang kosong" tunjuk jaeya.
"Pertama-tama kita akan memperkenalkan anggota osis sekolah ini" Ucap seorang guru laki-laki berkacamata.
"Anyyeong" seorang siswa memegang miq lalu menyapa semua murid baru disana. "Saya ketua OSIS disini, namaku Cha Hakyeon. Semua orang tau kalau aku ketua osis yang berwibawa, disegani semua orang, menjadi siswa teladan di sekolah ini dan......."
"Ketua osis itu Narsis ya" Lenia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benarkan jaeya??" Tidak ada jawaban, membuat Lenia memalingkan wajahnya kearah jaeya.
"......" jaeya sedang menatap lurus ke depan.
"jaeha, kau tidak mendengarku??" Bisik lenia sambil mencubit tangan jaeya.
"Aw, iya...iya aku dengar kok" ucap jaeya sambil mengusap-usap tangannya.
"Dan lagi aku bertanggung jawab atas keseksi......" belum sempat Hakyeon menyelesaikan perkenalannya. Seorang siswa disampingnnya mengambil paksa miq yang di pegang Hakyeon. "Yakkk,,, aku belum se..."
"Jung Taekwon, wakil ketua" lalu siswa itu memberikan miq kepada seorang siswi di sebelahnya.
"Aku hampir tak bisa menahan tawa melihat ekspresi ketua osis itu" Lenia mencoba untuk tidak tertawa. Dan lagi-lagi jaeya tidak menyahut. "Kau, lagi-lagi tidak mendengarku" Lenia memonyongkan bibirnya karena marah.
Lenia tidak tahu, kalau jaeya sedang memperhatikan seniornya yang di atas panggung itu. Jung taekwon. Jaeya penasaran dengan lelaki itu. "Jangan ngambek dong. Tadi aku hanya sedang memikirkan sesuatu" bujuk jaeya.
"Jadi, kau kenapa??"
"Tidak terlalu penting kok" jawab jaeya sambil tersenyum.

Bel istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi Sma shinhwa berbondong bondong pergi menuju kantin. "Akhh, oppaaaaa!!!" Lenia melambaikan kepada seorang Namja berambut pirang dan terdapat tato di tangannya itu.
"Lenia, kau me...mengenalnya??" Tanya jaeya gugup.
"Dia oppa ku... Namanya Kim won-sik. Dia sekolah disini juga" jawab Lenia.
"Adikku yang manis, bagaimana sekolahmu hari ini. Apa ada seseorang yang mengganggumu. Biar oppa mu yang menghajarnya" ucap won-shik.
"Mulai lagi, oppa selalu saja khawatir tidak jelas seperti ini. Tidak ada yang.... "Lenia berpikir keras. "aku lupa, Tadi pagi aku dan jaeya dimarahi senior perempuan disini".
"Siapa jaeya??" Tanya wonshik
"Akh.. temanku yang ini"
"Na..namaku Lee jaeya salam kenal" jaeya membungkukan badannya dengan sopan.
"Berteman baiklah dengan adiku,,,, lalu siapa yang memarahimu??" Tanya wonshik penasaran.
"Gadis berambut pendek... dan.. " Lenia melihat Ncha memasuki kantin bersama temannya. "Senior itu" tunjuk Lenia.
"Mana orangnya, berani sekali dia memarahi adiku yang manis ini. Belum tahu aku siapa" wonshik mencari senior yang di maksud Lenia.
"Itu oppa" mengarahkan kepala wonshik ke arah Ncha. Wonshik tiba-tiba terdiam.
"Le... Lenia... sepertinya oppa mendadak sakit perut" ucap wonshik bohong.
"Oppa, baik baik saja??" Tanya Lenia.
"Kau makan saja bersama temanmu" wonshik merasa gelisah.
"apa perlu ku antar ke ruang kesehatan...??" Lenia khawatir.
"Tidak per....
"KIM WONSHIKKKKK LAGI LAGI KAU!!!" Teriakan Ncha tentu saja terdengar seisi kantin itu.
"Gawat... bye byeee... nanti kita pulang sama-sama" wonshik pun kabur dan Ncha mengejarnya.
"Sepertinya oppa mu juga takut dengan senior park" ucap jaeya. Lenia hanya terpaku melihat oppa nya sedang di kejar Ncha.

"Rambutmu masih saja di cat. BERHENTI KAUUU!!!" TERIAK Ncha.
"Gilak apa, kepalaku bisa di cukur habis sama Park-jumma itu" Wonshik tidak sadar ada seseorang berada di depannya.
BRUK
"Duh, sakit" rintih Hakyeon. "Hei, kau!!"-"loh kemana orang yang menubrukku" Hakyeon lirik kanan kiri mencari orang yang menabraknya.
"Haaa... haaa... awas kalau ketemu. Aku botakin tu kepala" Ncha terengah engah tepat disamping Hakyeon.
"Hei, kau... Park-Jumma bantu aku berdiri" Ncha melihat kesebelah kirinya. Ia melihat Hakyeon yang masih duduk di lantai.
"Akh... blekie.. Sedang apa kau tiduran dibawah??? Kalau mau tidur pulang sana ke rumah. Dengan begitu jabatanmu beralih padaku" ejek Ncha.
"Kau...masih saja terobsesi denganku??" Tanya Hakyeon.
"Hah???" Ncha terkejut. Mengabaikan namja itu. Lalu ncha memutuskan meninggalkannya.
"Yaakkkkk... bantu aku berdiri. Kakiku benar2 sakit heii Park-jummaaa!!!" Teriak Hakyeon.
"Ck....." Ncha berbalik arah lalu memnghampiri Hakyeon. "Kemarikan tanganmu" Ncha mengulurkan tangannya.
"Bopong aku ke ruang kesehatan" alis Ncha terangkat mendengar permintaan Hakyeon.
Tanpa pikir panjang Ncha menaruh tangan Hakyeon di pundaknya.
"tidak bisa kah langkah kakimu di percepat??" Tanya Ncha pada Hakyeon.
"pelan pelan saja. Kakiku bnr2 sakit" rengek Hakyeon. Ncha melihat jam di tangan kirinya. Matanya terbelalak setelah melihat jam.
"Sial, aku belum makan siang" Ncha mulai gelisah. "Heh... naik kepunggungku, cepat" ucapan Ncha tentu saja membuat Hakyeon kaget.
"Kau gila"
"Lama sekali. Aku lapar belum makan apapun tauk" tanpa aba aba. Ncha menggendong Hakyeon layaknya seorang Putri.
"Yakkk... ini... ini memalukan sekali" Hakyeon panik.
"Diam... kalau bukan demi perutku. Aku tidak mau melakukan ini tauk" Ncha melotot ke arah Hakyeon. Membuat namja itu tidak bisa melawan.
"Imageku hancur sudah" Hakyeon menutup wajahnya.

Sementara itu di smp Shinhwa.
"Visha, makan pelan pelan" ucapan hyuvi tidak didengarnya.
"Uhuk...uhukkk" segera visha mengambil gelas yang berada di depannya.
"Sudah kubilangkan" Hyuvi menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya melihat ke sekeliling kantin. Lalu berhenti tepat ke arah seorang namja yang sedang duduk sendiri sambil membaca buku.
"Hei, kau masih suka namja itu?? Kau tau kan Han sanhyuk siswa terpintar dalam segala hal. Sudah pintar, baik, hiss... dia terlalu sempurna. Sudah menyerah saja" saran ersha membuat Hyuvi memukul punggungnya karena kesal.."uhuk....uhuk" visha tersedak.
"Aku kan belum mencoba"
"glukk"--"kau tau kan rumor bahwa dia menolak semua siswi yang menembaknya. Yeoja paling cantik disinipun dia tolak" visha kembali makan.
"Hmp... sepertinya aku harus mencari kelemahannya" pikir Hyuvi.
"Terserah kau saja" ucap visha sedikit acuh.

Waktu berlalu begitu cepat. Bel telah berbunyi. Seperti biasa Hyuvi dan visha pulang bersama-sama. "Akh...aku lapar. Ibu masak apa ya di rumah" visha mengusap ngusap perutnya.
"Ya... yang kau tau hanya makan"
"Hehe" visha cengengesan. "Tunggu, Hyuvi. Liat ada siswa Sma sedang jongkok di sana. Gawat rambutnya lihat di cat, bertato pulak. Apa mungkin dia siswa nakal?? Bagaimana ini???" Tanya visha sedikit ketakutan.
"Mana ku tempe".
"Aku gak mau tau yak. Kalau orang itu menyerangmu" ucap visha. Visha pun berjalan dengan sangat pelan.
Jarak diantara mereka hanya satu meter. Kaki visha bergetar. Siswa berambut pirang itu tiba-tiba berdiri.
"Menyebalkan!!!" Teriak namja itu.
"Kyaaa... ampun... jangan palak kita. Uang jajanku habis suerrr" visha jongkok sambil menaruh tangannya di kepala.
"Kenapa dengan temanmu???" Tanya namja itu pada Hyuvi.
"Sudah tidak perlu di pedulikan. Yeoja ini emang aneh" ucap Hyuvi dengan santai.
"Kau tidak apa-apa?? Apa ada yang sakit?? Aku punya plester di sakuku" tawar namja itu. Visha mengangkat kepalanya. Pelan-pelan ia memberanikan diri membuka matanya. "Pakailah" senyumannya membuat wajah visha merona merah.
"A..aku tidak apa-apa" ucap visha. "Bukannya tangan oppa yang terluka. Harusnya kau yang pakai plester" tunjuk visha ke arah luka namja itu.

Guk...gukkm..gukkk.... suara anjing berwarna putih terus menggonggong. "Kenapa anjing ini susah didekati yak?? Padahal aku hanya ingin memberi makan. Tapi malah di gigit" uucap namja itu heran.
"Anjing itu bernama mozi, dia memang tidak bisa dekat dengan sembarang orang" jelas visha.
"Pantas saja" -- "ya ampun aku harus pergi. Bye mozi.... kalian juga cepatlah pulang" sambil mengusap rambut visha.
"Hyuvi, ternyata dia baik. Tidak sesuai dengan penampilannya" ucap visha.
"Kau suka dengan namja itu??"
"Sepertinya.. akhhh kenapa aku tidak menanyakan namanya" visha berubah kesal.
"Kim wonshik"
"Kau kenal Hyuvi??"
"Tidak, hanya tau saja. Dia Salah satu sasaran Ncha eonnie"
"Ncha eonnie suka padanya??" Tanya visha panik.
"Tidak, eonnie selalu membuat daftar siswa siswi yang menurutnya bermasalah" jelas Hyuvi.
"Kalau begitu, ayo kita main ke rumahmu".
"Bukankah tadi kau ingin cepat pulang??" Hyuvi mengangkat alis matanya.
"Aku bisa makan di rumahmu kan hehehe" visha hanya cengengesan.

"Ibu, aku pulang" seorang namja tampan membuka pintu dan masuk kedalam rumah. "Sepertinya tidak ada siapa-siapa".
Grasaakkk grusukkkk
Namja itu kaget, mendegar suara di dapur. "Jaeya, kau sudah pulang???" Tanya namja itu. Tapi tidak ada yang menyahut. "Ibu, ayah???" Masih belum ada yang menyahut. Namja itu menjadi parno setelah mendengar suara itu.
Pelan pelan namja itu mendekat ke arah dapur sambil membawa sebuah tongkat bisbol. "Kalau berani keluar. Jangan sembunyi" ancam namja itu.
Terlihat kepala yang menonjol di balik lemari. "Gluk" namja itu mulai berancang-ancang untuk memukulnya.
"Haaa.... kenapa tidak ada cemilan sih" namja itu kaget. Seorang gadis kecil berkepang 2, sedang mengacak-acak dapur. Gadis kecil itu membalikan badannya.
"Siapa kau??" Tanya namja itu.
Gadis itu malah terdiam. Matanya tertuju lurus ke arah namja itu. "Kenapa kau masuk kedalam rumahku??" Tanya namja itu lagi.
Mata gadis kecil itu berbinar. "Oppa gantenggg" segera gadis kecil itu memeluk ke arah namja itu.
"Waee...wae.... kenapa kamu melompat kearahku tiba tiba??".
"Oppa... apa mungkin kita berdua telah berjodoh??"
"Berjodoh kepalamu peyang. Siapa kau?? Kenapa kau bisa masuk kedalam rumah. Di tambah berdirilah. Kau sangat berat" protes namja itu.
"Tidak mau. Leevi mau seperti ini terus" leevi merengek.
"Leevi??? Kau Jang Leevi yang akan tinggal disini???" Tanya namja itu.
"Ada apa sih ribut-ribut???" Seorang wanita paruhbaya baru saja masuk.
"Ibu!!!" -- "tante!!" Ucap namja itu dan Leevi secara bersamaan.
"Hongbin apa yang kau lakukan pada Leevi!!!" Namja itu ternyata bernama Hongbin. Ibunya memukul kepala Hongbin, sehingga namja itu mengaduh kesakitan.
"Dia yang melompat kearahku tiba-tiba" Hongbin menyingkirkan Leevi. "Minggir" tetapi leevi tidak mau melepaskan pelukannya pada Hongbin.
"Ibu ada apa??" Jaeya yang baru saja masuk kedalam rumah. "Woohhh oppa... ternyata ini alasan kau menolak semua gadis di sekolahmu ???".
"Hei, jangan membuat oppamu ini seperti tersangka" Hongbin menunjuk ke arah jaeya.
"Eomma... lihat Hongbin oppa melotot kearahku" rengek jaeya.
Ibu Hongbin dan jaeya hanya bisa menghela nafas. "Leevi, bangunlah" akhirnya leevi bangun dan melepaskan pelukannya dari Hongbin.
"Pinggangku" rintih Hongbin.
"Leevi senang bisa tinggal bareng sama oppa ganteng ini" Leevi merangkul tangan Hongbin.
"Ibu apa anak ini baik-baik saja??" Tunjuk Hongbin kearah Leevi.
"Ok, sudah ibu putuskan. Kamu yang akan mengantar jemput dia pulang sekolah" mulut Hongbin terbuka sangat lebar.
"Kenapa harus aku bu... kenapa??? Waeee? Kan masih ada jaeya" protes Hongbin.
"Oppa sudah jangan bantah perintah ibu. Tidak baik" ucap jaeya sambil terkekeh melihat oppa nya yang sedang panik itu.
"Kau...." Hongbin berusaha menjitak jaeya. Tapi pegangan Leevi yang kuat membuat Hongbin tidak bisa berkutik.
Jaeya hanya menjulurkan lidahnya.
"Tante, jaeya eonnie emang the best" Leevi mengacungkan jempol sambil kegirangan.

Sementara itu visha yang sibuk menanyakan siapa kim wonshik pada Ncha. "Eonnie... foto ini ku ambil yak??" Ucap visha dengan nada memohon.
"Baiklah. Kalau itu bisa membuatmu tidak berisik -,-)" lalu Ncha pergi ke kamar Hyuvi. " Hyuvi... besok jangan lupa temani eonnie ke event cosplay. Awas kalau kabur" ancam Ncha.
"Baik... baik.... aku temani" ucap Hyuvi.
"Hehehe...gomawo" ucap Ncha dengan nada manja.

======

Kim wonshik yang mengantar adiknya Lenia ke tempat kursus memasak. "Oppa pergi dulu. Nanti pulangnya oppa jemput" Lenia menganggukan kepalanya.
"Semoga guru memasak kali ini bukan lagi ibu-ibu galak, atau tante tante genit atau.... hiii jangan dah" Lenia pun masuk ke dalam ruangan. Terlihat aneh. "Kenapa semua yang ikut kursus banyak sekali perempuannya. Dan lagi kenapa mereka semua berdandan. Mereka mau masak, atau mau ada peragaan busana sih" ucap Lenia dalam hati.
Instruktur yang di tunggupun akhirnya datang. Lenia merasa risih melihat semua orang disana merapikan rambut dan baju mereka.
Mata Lenia terbuka lebar. "Senior taekwon" -- "tunggu... dia yang akan jadi instruktur memasak ku kali ini" Lenia kaget bukan main. Sekarang ia tau alasan kenapa mereka semua yang ada di sini ingin terlihat cantik.

====

"Ok... surat untuk senior taekwon selesai ku buat. Semoga senior mau membacanya" ucap jaeya sambil memegang surat itu. "Untuk senior taekwon dari lee ja..."
"Jaeya... kemarilah!!!turun dan bantu ibu" teriaknya dari bawah.
"Iyahhh" segera jaeya pergi meninggalkan kamarnya dan suratnya di atas meja.
"Eonnie... pinjam pulpen dong eonnie" Leevi yang masuk kedalam kamar jaeya. Dan melihat sepucuk surat diatas meja. "Hooo... surat apa ini??" Leevi yang penasaran lalu membacanya. "Hoo..manisnyaaa... eonnie mengirim surat Cinta. Tapi tunggu dia lupa menulis namanya. Tunggu namanya eonnie tadi siapa ya... lee.. jaa..jaa..." Leevi berpikir keras. "Akhhh... iya aku ingat" segera Leevi mengambil pulpen dan melanjutkan tulisan jaeya. "Oke... semangat eonnie"

To be continued__

All In Love (VIXX_VVE) Part 1

Author : niya_yuuchan

Genre : Romance comedy

Rating : Teen

created : 29 juni 2016

Maincast:
- Niya As Park Ncha (OC)
- Nia Jung As Kim Lenia (OC)
- Aya As Lee Jaeya (OC)
- Ersha As Song Visha (OC)
- Silvia As Jang Leevi (OC)
- Vita As Park Hyuvi (OC)
- Cha Hakyeon (VIXX)
- Jung Taekwon (VIXX)
- Lee Jaehwan (VIXX)
- Kim Won-sik (VIXX)
- Lee Hongbin (VIXX)
- Han sanhyuk (VIXX)






Cuaca di pagihari begitu cerah, semua orang mulai sibuk dengan aktivitas mereka di pagi hari. Jalanan mulai ramai, di penuhi orang-orang yang hendak pergi bekerja. Terlihat seorang gadis dengan rambut panjangnya yang terikat kebelakang sedang berlari, sambil menyumpal sebuah roti selai di mulutnya.

"Gabat abu terambaf(gawat, aku terlambat)" gadis itu terus berlari dengan cepat sambil terus memakan rotinya. Gadis itu bernama Song visha. "Vishaaaa!!!! Tunggu aku!!" Teriak seorang gadis dibelakang visha.

"Wooo... bubiii" sapa visha.

"Yakkk" teman visha itu mengambil roti di mulutnya. "Hentikan kebiasaanmu sarapan sambil berlari" ucapnya dengan nada marah.

"Park Hyuvi....kembalikan rotiku!!" Rengek visha. Dengan entengnya Hyuvi membuang roti itu. "Yakkk,,aku masih lapar!!" Teriak visha.

"Nanti perutmu sakit tauk!" Hyuvi menasihati visha. "Sudah, kita sudah terlambat pergi ke upacara. Kita sudah kelas 3 smp. Setidaknya rubah sikapmu itu visha.... dan lagi..." selama Hyuvi berceramah, visha menutup telinganya rapat-rapat. "Lagi-lagi kau tidak mendengarkanku!!".

"Harusnya kau ganti namamu menjadi Park Wifi saja sana" goda visha.

"Awas, kau yak Vishaaaa" Hyuvi mengejar visha yang mempercepat larinya.

Sementara itu, terlihat seorang gadis lainnya sedang melihat kanan kiri dengan wajah bingung. "Lagi-lagi aku tersesat, padahal hari ini penerimaan murid baru sepertiku. Kau ini kenapa sih jaeya bisa pelupa seperti ini".

"Kau, murid baru Di sma ini juga???" Sapa seseorang di belakang jaeya.

"...." jaeya membalikan badannya. Iapun menganggukan kepalanya.

"Kalau begitu, ayo sama -sama masuk"   gadis itu menarik tangan jaeya. "Akh, kita belum berkenalan. Namaku Kim Lenia" gadis bernama Lenia itu mengulurkan tangannya.

"Lee jaeya" . "Kau, teman pertama yang menyapaku" ucap jaeya.

"Aku juga, kau tau aku ini sedikit pemalu. Makanya, dari tadi aku belum mendapatkan teman seorangpun" ucap Lenia dengan nada kecewa.

"Sepertinya, kau tidak terlihat seperti anak pendiam" Tatap Jaeya pada Lenia

"Hei, kau hanya belum mengenalku saja jaeya".

"Memang belum, kita kan baru kenal 5 menit yang lalu" balas jaeya.

"Ishhhh, kau ini....dengar ya...." perkataan Lenia terpotong gara-gara terdengar suara teriakan seseorang dibelakang.

"Hei, kalian berdua mau sampai kapan ngobrol disini???" Tanya seseorang di belakang mereka. "Kau, taukan upacara penerimaan murid baru sudah mulai sejak tadi" seorang Gadis berambut pendek tiba-tiba saja memarahi mereka berdua.

"Ma..maaf senior. Kami berdua hanya tersesat" jelas lenia.

"Lalu, kalau tau tersesat kenapa tidak tanya!!!" bentak Gadis berambut pendek itu.

"Ma...maaa...."

"Cepat masuk!!!" Teriaknya.

"neee,, " lenia dan jaeya bergegas pergi dan mencari dimana tempat upacara itu.

"Senior tadi galak sekali, hii menyebalkan" gerutu lenia. "Kau, tadi liat nama senior kejam itu???" Tanyanya.

"Tentu saja, tadi aku sempat lihat namanya. Park Ncha" jawab jaeya.

"Aku bisa mendengar kalian membicarakanku!!!" Teriak gadis bernama Ncha itu.

"Lenia, ayo lari" tarik Jaeya.

Park Ncha yang berdiri di gerbang sekolah untuk melihat jika ada siswa atau siswi yang telat datang. "Hei, kau. Bajumu rapikan!!!" Bentak Ncha.

selama itu ia terus memaki semua siswa atau siswi yang menurutnya tidak mematuhi aturan. "Sepertinya, sudah waktunya tutup gerbang" Ketika Ncha menutup gerbangnya ia melihat seorang gadis sedang melompat-lompat di depan gerbang sekolah. Seperti sedang mencari sesuatu.

"Ada perlu apa adik kecil kesini??" Tanya Ncha menghapiri gadis itu.

"Ini, bukan urusan ahjumma" ucapnya tanpa melihat wajah Ncha.

"YAKKK, A.... aku bukan ahjumma!!! Aku siswi disini juga bocah tengil!!" Ucap Ncha dengan nada sedikit marah.

"Klo orang yang suka marah-marah kata guruku cepat tua. Berarti, benarkan eonnie sebenarnya ahjumma" ucapan gadis itu membuat Ncha semakin marah.

Segera Ncha menutup rapat-rapat gerbag sekolah.

"Kau, tidak boleh masuk... dan cepat pergi ke sekolahmu!!" Perintah Ncha.

"......mana ya oppa tadi" gadis itu mengindahkan ucapan Ncha.

"Ishhh.... anak Sd jaman sekarang tidak bisa sopan sama yang lebih tua apa" Ncha berkomat-kamit sendiri, lalu meninggalkan gadis itu.

"Leevi, apa yang sedang kamu lakukan disana???" Tanya seorang dibelakangnya.

"Ah, eonnie ..... tadi aku lihat cowok ganteng masuk kesini" ucap gadis bernama Leevi itu.

"Kau ini masih anak bau kencur leevi... setidaknya kau suka dengan anak teman sebayamu"

"Ah, eonnie mereka terlalu ingusan. Leevi suka cowok dewasa tadi yang masuk ke sini" tunjuk leevi ke arah sekolah didepannya itu.

"Ya...ya.ya... dan sekarang ikut eonnie. Kamu harus mengurus kepindahanmu di tempat teman ayah bukan. Ayo, cepat" kakak perempuan itu menarik tangan Leevi lalu pergi.

To be continued

Wink up 201002 - 09Wink up 201006 - 01

author   : niya_yuuchan
cast        : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated      : Teen
genre     : shounen ai

      "inoo kei...dia lelaki yang ku cintai" lirih yuya. daiki hanya bisa mendengarkan ceritanya. "kau mengira aku bohong bukan?? tapi pada kenyataannya aku ini mempunyai kelainan. menyukai sesama jenis. maaf membuatmu terseret masalahku" yuya menundukan kepalanya karena merasa bersalah pada daiki.

      "lalu, kenapa harus aku direktur?? apa karena aku mudah diperdaya, makanya direktur memanfaatkanku" ucap daiki dengan nada agak sinis.

      "jujur saja...aku benar-benar tertarik padamu. kepolosanmu. karena ada diirimu, aku bisa melupakan sejenak tentangnya" ada perasaan aneh pada daiki, ketika yuya mengatakan hal itu.

      "tapi aku ini normal" ucap daiki.

      "aku tahu itu. asal kau tahu saja. aku sama sekali tidak pernah berniat memanfaatkanmu" -- "aku benar-benar jatuh cinta padamu" ucapan yuya yang begitu tulus. membuat daiki berdegu kencang. perasannya tidak karuan.

      "direktur bercanda kan?? aku tahu, direktur sangat rindu pada inoo-san. makanya berbicara seperti itu"

      Yuya menggelengkan kepalanya. "entahlah, tapi perasaanku tidak bisa berbohong. kalau aku juga menyukaimu dai-chan" daiki merasakan wajahnya memerah. terasa panas olehnya setelah mendengar ucapan yuya. "maaf membuatmu tidak nyaman. aku yakin perasanku inoo lebih kuat. jadi aku tidak mungkin mengganggumu" yuya tersenyum.

      "haaha.....souka....dengan begitu aku tidak perlu takut pada direktur haha" ucap daiki. lagi-lagi daiki merasa janggal dengan dirinya. daiki merasakan perasaan kecewa. "aku harus membuang jauh-jauh pikiran itu" ucap daiki dalam hati. "baiklah aku akan membantu direktur"

      "hanya satu bulan...aku yakin bisa menemukannya. aku akan memberimu uang lebih banyak dari gajimu yang biasanya" yuya terus meyakinkan daiki agar ia mau mebantunya.

      "baiklah,,,,,," daiki yang tidak tega melihat yuya terus memohon. "apa inoo-san sangat berarti bagi direktur??? sampai direktur mengorbankan segalanya untuknya" tanya daiki penasaran.

      "bagiku dia segalanya" ucap yuya dengan tulus.  "jika aku menemukannya. aku tidak peduli ayah akan megusirku. dan tidak bisa hidup dalam kekayaan lagi" daiki merasakan cinta yuya pada inoo begitu kuat.

      "bagaimana kalau dia sudah tidak mencintai direktur??" pertanyaan daiki terasa bagai sebuah hujaman pedang yang menusuk tepat di dada yuya.

      "jika dia tidak mencintaiku lagi....." yuya terdiam. llau menatap lekat-lekat daiki. "tidak ada gunanya bagiku untuk hidup" yuya menggucapkannya dengan tersenyum. daiki benar-benar bertekad untuk membantu yuya. ia berjanji pada dirinya.

      "maaf,,,aku tidakbermaksud" daiki cepat-cepat meminta maaf.

      "kemungkinan itu bisa terjadi dai-chan....aku sudah menyiapkan segalanya" yuya mengucapkannya dengan begitu santai. "tenang saja, aku tidak menyuruhmu berbuat aneh" -- "kau cukup sembunyikan identitasmu sebagai laki-laki jika aku bawa ke rumah ini" ucap yuya di mengerti oleh daiki.

      Keesokan harinya pukul 09.00~ @ kantor

      "dai-chan.....kenapa kau tidak bersemangat.  kita banyak kerjaan loh. direktur pasti aka mengomel" hikaru yang duduk tepat di samping daiki yang masih menempelkan kepalanya di mejanya.

      "haik...haikkk" ucap daiki dengan malas. Yuya baru saja datang dengan stelan jasnya  yang berwarna abu. Tapi tak biasanya, ia memakai dalaman kaos dengan berwarna putih, Ia berjalan kearah dimana daiki dan hikaru.

      "ohayou" sapa hikaru dengan memperlihatkan gigi gingsul yang jadi ciri khasnya.

      "o...ohayou gozaimasu!!" daiki berdiri dan entah kenapa ia merasa gugup ketika yuya menyapanya.

      "ohayouu~~" sapa yuya dengan kekanak-kanakan. "ayo, kita sarapan" ajak yuya pada daiki.

      "tapi, aa...saya masih ada....

      "direktur bawa saja dia, sepertinya dia belum makan. lihat saja dia lemas dan tidak berdaya" hikaru memotong ucapan daiki. Daiki menatap tajam teman kerjanya itu.

      "awas kau" daiki berkomat-kamit kepada hikaru. "bu.....akhhhhhhh". Lagi-lagi dai mematung. Yuya menempelkan keningnya di kening daiki. Memeriksa keadaanya. Wajah daiki bagaikan kepiting rebus.

      "Sepertinya badanmu panas??" yuya menjadi khawatir. "kita ke dokter??" yuya menarik tangan daiki.

      "tidak usah, aku baik-baik saja" -- "lihat...satu dua tiga..." daiki berusaha meyakinkan yuya bahwa dia baik-baik saja. Tapi, Yuya yang masih cemas dengan keadaan daiki.

      "kalau begitu, ayo kita makan??" yuya paling benci jika ada yang menolak ajakannya. Ia akan memaksa orang itu hingga ia mau. Daiki tau itu, karena ia sering mendengar dari hikaru. Dan Ia'pun pasrah saja, ketika yuya menariknya.

      "awas kau hika" daiki menatap tajam hikaru. Tapi dengan polosnya hikaru membuat tanda hati dengan tangannya pada daiki. "kau gila!!" ucap daiki kesal.

      "tadi kau bilang apa??"

      "ah..ti..tidak" ucap daiki dengan gugup.

      Hikaru hanya melambaikan tangannya pada daiki dari jauh.

TBC
21229_287538238048286_1476297481_n201306duet_0005
author   : niya_yuuchan
cast        : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated      : Teen
genre     : shounen ai
Daiki's picture by Fi daichan *sankyuu for pic* ^^



Daiki's POV

      Rumahnya besar sekali. aku duduk disamping takaki-sama. aku benar-benar tidak tenang berada di sini dengan tujuan tidak jelas.

      "tolong antarkan gadis ini ke ruang tamu" perintahnya pada seorang pelayan. Apa tadi dia bilang?? gadis?? dari sudut manakah aku terlihat seperti seorang gadis. orang itu benar-benar menyebalkan. Perlukah aku mengirim orang itu ke hutan belantara. Dan membuatnya menjadikan dirinya serang raja hutan.

      (O_O) yabaii....kenapa direktur tiba-tiba melihatku?? apa dia bisa membaca pikiranku??...matte matte.....direktur menghampiriku dan mendekatkan wajahnya lagi padaku. Aku berusaha menutup mulutku dan membuat posisi tubuhku kebelakang 35 derajat.

      "aku akan berganti pakaian dulu. duduklah disana dengan tenag sampai aku kembali bersama ayahku" bisiknya di telingaku.

      "a..ayah..m..mu?? maksudnya PRESDIR" buru-buru direktur menutup mulutku dengan tangan kanannya,

      "tenanglah...dan ikuti permainanku. wakarimashitaka" aku mengangguk tak bernafas. setelah itu, ia lepaskan tangannya dari mulutku. iapun melangkahkan kakinya ke sebuah anak tangga.

      "saya antarkan ojou-sama ke ruangtamu" ucap pelayan itu dengan ramah. sesuai pesan direktur akupun mengikutinya.

      Aku duduk di sebuah sofa yang sangat empuk. tidak pernah kurasakan sebelumnya. akupun memainkan sofa itu seperti anak kecil.

     "tanoshiikatta??" aku tersentak dengan ucapan seseorang. aku terdiam menatap sosok itu. aku tak bisa bernafas sedikitpun. Pria tua itu aku mengenalnya jelas. Dia ayah Direktur yuya sekaligus Presdir perusahaan dimana aku berkerja.

     "GO..." suara laki-laki yang keluar dari mulutku. "gomenasai" ucapku dengan selembut mungkin agar terlihat seorang perempuan.

     "lihatkan paman...gadis pendek itu tidak cocok dengan yuya-kun" gadis itu selalu berkata pendek padaku. Bukankah dia lebih pendek dariku.

     Menyebalkan presdir terus menatapku dengan tatapan membunuh. Direktur cepatlah kemari. Untuk pertama kalinya aku ingin direktur bersamaku.

    "paman..." gadis itu menyebalkan. Aku berharap tidak memiliki pacar seperti gadis itu.

    "kau......." dia semakin menatap tajam diriku. hua.....kenapa direktur harus membuatku melakukan ini. setiap sudut presdir terus menatapku. Seperti dia ingin menelan hidup-hidup diriku.

    "ayah...tidak baik menatap pacarku seperti itu"

    Suara itu?? ya..itu suara direktur yuya. Untunglah dia datang. Presdir yang berdiri dimana aku sedang duduk. menggeserkan dirinya dan membuatku bisa dengan jelas melihat direktur.....

    "yuya...." bisikku. DEG# kenapa....baru kali ini aku melihatnya benar-benar membuatku terkagum. Memakai pakaian hitam..rambutnya yang ia sisir begitu rapi. (./////////.) kenapa wajahku tiba-tiba terasa panas.

    "benarkah,,,dia pacarmu??" presdir menyilangkan tangannya.

    "tentu saja" ucap direktur sambil merangkulku. "ne" ia tersenyum kearahku dan menekan bahuku agar aku tidak memasang wajah terkejut. "jadi biarkan aku memilih calon istriku ayah" ucapnya dengan manja.

     "benarkah??" presdir terus mengucapkan itu. aku mengangguk pelan dengan penuh keringat di keningku. "siapa namau??" tanyanya padaku. jujur saja aku gugup setengah mati saat ini.

     "a...a...arioka...dai..dai"

    "Daisy......" aku memalingkan wajahku kearah direktur. Matanya seperti menyuruhku mengikuti ucapannya.

    "arioka daisy (^_^;) yoroshiku" ucapku dengan gugup.

    "baiklah..." aku terkejut bukan main begitupun gadis yang di jodohkan dengan yuya-kun.

    "paman doushiteeeeeeeee??" teriak gadis itu. "bukankah paman berjanji akn menjodohkan aku dengan yuya-kun?? aku mencintainya paman" rengek gadis itu.

    "itu sudah menjadi keputusannya Tsukiyama Momo" ucapan presdir membuatku terkejut. kenapa ia begitu mudahnya menyetujui hubungan kita berdua. MATTE.....kenapa aku berbicara seolah-olah aku benar-benar berhubungan dengan direktur. "bagi paman asalakan yuya tidak mencintai seorang laki-laki lagi. itu cukup bagiku" presdir menatapku dengan dingin.

    laki-laki?? ternyata benar direktur yuya ini homo?? ayahnya melakukan perjodohan agar dia tidak mencintai seorang laki-laki lagi?? tapi bukankah aku juga ini laki-laki. apa sih yang ada di otak direktur satu ini. "dan tentu saja. 1 bulan lagi kita akan umumkan pernikahan kalian, tidak perlu bertunangan" ucapannya lagi-lagi seperti sebuah senjata yang membunuhku. aku hanya bisa menganga tidak percaya.

    "arigatou...." direktur yuya mengucapkannya seperti anak kecil.

    "paman ...ini tidak adil bagiku. bagaimana kalau dia gadis miskin. tidak berpendidikan. atau jangan-jangan dia ini seorang penipu yang menjerat pria-pria kaya" rengek momo. dan jujur saja tangan ini sepertinya sudah tidak sabar ingin menamparnya. Ku angkat tangan kananku. dan

PLAKKKK#

    Sebuah tamparan melayang ke arah pipi gadis itu. dan bukan aku yang melakukannya tetapi direktur.

    "bisakah kau tidak menjelek-jelekan orang yang ku sukai??" lagi-lagi jantungku berdebar-debar. "semakin lama aku muak padamu" gadis itu merasa takut dengan tatapan yuya. tangannya bergetar. Entah kenapa aku jadi kasihan pada gadis itu.

    "cukup....aku tidak apa-apa" aku menengahi mereka. aku mengambil sebuah saputangan yang berada di tas kecil pemberian yuya. "biar kuhapus airmatamu"

AUTHOR's POV ********

    "KAU MEMUAKKAN..KAU HANYA BERPURA-PURA BAIK PADAKU"teriak gadis itu setelah ia mengenyahkan tangan daiki yang hendak memegang wajahnya.

    "tuan saya bawakan secangkir teh" seorang pelayan yang tiba-tiba datang. dan membuat momo mengambil cangkir berisi air itu lalu menumpahkannya ke kepala daiki.

BYUURRRRRR

    "MOMO" teriak yuya.

 . "INI PANTAS UNTUKMU" teriak momo. daiki masih mematung.

    "yuya bawa arioka ke kamarmu. dan kau momo lebih baik kau pulang, bilang pada ayahmu pernikahan di batalkan" ucap presdir dengan santainya.

    "aku akan menghancurkanmu" ancam momo di telinga daiki.

    "dai-chan ikut aku" yuya memapah daiki yang masih tidak bisa percaya apa yang terjadi padanya tadi.

    Yuya dan daiki berada di satu ruangan sekarang. dai masih berdiri di depan pintu kamar yuya tidak sedikitpun bergerak dari sana. hingga yuya menghela nafasnya.

    "gomen membuatmu terlibat sejauh ini" ucap yuya dengan bersalah.

    "apa direktur puas membuatku seperti ini?? INIKAN YANG KAU INGINKAN. MEMBUATKU TERLIHAT SEORANG BODOH" teriak daiki yang sedari tadi menahan semua emosinya.

    "dai-chan pelankan suaramu" perintah yuya.

    "TIDAK MAU....AKU TIDAK PEDULI LAGI DENGAN PEKERJAANKU. AKU CUKUP SABAR MENAHAN PERLAKUANMU. YANG MEMBUATKU KECEWA PADAMU. KENAPA KAU MEMBUAT PERMAINAN SEPERTI INI DAN MELUKAI BANYAK ORANG" daiki terus berteriak.

    "akan aku batalkan perjodohanku denganmu" ucap yuya lemas.

    "tentu saja....kalau perlu sekarang juga" daiki meraih kenop pintu dan dihalangi begitu saja oleh yuya.

    "ku mohon...bersabarlah selama 1 bulan ini" yuya memohon dengan sangat. "biarkan aku mencarinya dan menemukannya. aku yakin bisa melakukannya selama 1 bulan itu" daiki tersiam mendengar ucapan yuya.

    "kenapa??"

    "aku harus mencari inoo-chan...dialah yang membuatku tak bisa menikah dengan siapapun" yuya menjelaskan semua penyebabnya. "jika aku menemukannya..aku janji akan membatalkan pernikahan dan tidak akan mengganggumu sediktipun" - "dan kau akan tetap bekerja di perusahaan ayah tanpa gangguan lagi dariku"

    "haruskah aku percaya??" ucap daiki dengan sinis.

    "ku mohon...untuk kali ini percayalah padaku. hanya kau satu-satunya harapanku" melihat yuya yang kacau seperti itu perasan daiki  meluluh dan melonggarkan tangannya dari kenop pintu.

    "siapa inoo-chan yang direktur terus sebutkan?? apa dia seorang laki-laki??" tanya daiki penasaran.

+++++++++++++TBC++++++++++++++++

cats

author   : niya_yuuchan
cast        : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated      : Teen
genre     : shounen ai

# # # # #

daiki's pov

        cip cip cip.........

        "ngggggg....jam berapa sekarang??"

        Aku raih jam wekker miliku. "sudah jam 7" kukibaskan selimut milikku. Merenggangkan tubuhku agar lebih nyaman. Ku dekati jendela di kamarku. "hmp..........harum bunga sakura yang sedang mekar membuatku nyaman"

        Kutatap dengan bingung suasana di depan rumahku. "kenapa banyak orang berkerumun di depan rumahku??"

        1 detik........2 detik....3 detik........ "KENAPA ADA MOBIL LIMOUSIN DI DEPAN RUMAHKU"

        drap drap drap drap.....BRAKKKKKKKKKK#

        "huaaaa \(OAO)/" ---- "okaa-chan..kau membuatku jantungan" aku mengelus-elus dadaku. "ada apa sih tiba-tiba membuka pintu kamarku seperti itu?? bagaimana kalau aku sedang ganti baju" ucapku dengan ketus. " itu kenapa ada mo......."

        "itu tidak penting...itu itu itu" okaa-chan berbicara dengan terbata-bata sambil menunjuk ke belakang dengan gugup.

        "ada apa??" akupun pergi ke bawah dengan wajah kebingungan. Apa aku mendapatkan mobil limousin atau ada pejabat datang ke rumahku.

         "AKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH" teriakku dengan keras.

        "hai (^O^)/ ohayou dai-chan" ucapnya sambil tersenyum baka khas dia. lalu apa-apaan tadi?? dia memanggil nama kecilku dengan embel-embel chan di belakangnya.

        "kenapa kau tidak bilang kalau kau punya teman orang kaya seperti takaki-kun ini" ucap okaa-chan sambil menepuk-nepuk kepalaku.

        "teman??? bukan okaa-chan orang ini"

        "takaki yuya desu. boku wa daiki no tomodachi...... yoroshiku" takaki-sama memotong ucapanku dan membungkuk dengan sopan pada okaa-chan.

        "huaaaa..okaa-chan bangga padamu daiki. punya sahabat sudah tampan, kaya, dan sopan. tetangga kita pasti iri melihatnya hohohohoho" (-_-) okaachan...

        Ia tersenyum padaku yang justru membuatku begidik ketakutan. Entah rencana apa lagi yang ia lakukan padaku. ia menepuk-nepuk sofa menyuruhku duduk di sampingnya. "tenanglah aku tidak akan menggigit....."ucapnya. pelan-pelan aku menghampirinya dan duduk disampingnya. ku beri jarak 25cm agar tidak terlalu dekat.

        "kenapa anda mengaku temanku...??" bisikku padanya.

        "berhentilah berbicara formal seperti itu. bukankah kita teman dai-chan (^U^)_// " ia merangkulku. dan menepuk-nepuk kepalaku dengan keras.

    "direktur modus" (-_-) ucapku dalam hati.

        "takaki-kun ibu ambilkan minum. kau ingin minum apa??"

        "tidak usah.....aku tidak akan lama berada di sini" aku menhela nafas lega.

        "kalau begitu pulanglah, bukankah takaki-kun banyak pekerjaan" aku mengusirnya dengan halus.

        "tidak juga, aku sedang senggang" ucapnya dengan santai. " bolehkan aku meminjam dai-chan??" aku terkejut mendengar ucapannya.

        "silahkan   _/////////////_ " okaachan apa-apaan itu. ingat tou-chan yang berada di kamar....kenapa wajahmu memerah seperti itu melihat senyuman seorang setan cilik seperti takaki-sama.

        "okaa-chan aku yang diitanya kenapa malah okaa-chan yang jawab" aku protes pada okaa-chan. "bukankah hari ini kita sekeluarga pergi ke rumah jii-chan" aku mengedip-ngedipkan mata pada okaa-chan agar mengerti.

        "kenapa dengan matamu daiki??" tanya okaa-chan dengan wajah polos. kenapa okaa-chan tidak mengerti maksudku.

        "sepertinya waktunya semakin sempit" --- "maaf kalau aku terpaksa membawamu pergi dengan cara tidak biasa.

        "hah??" --- "..huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" aku berteriak. "ke..kenapa kau mengangkatku seperti karung beras??" protesku. Tapi takaki-sama mengacuhkan teriakanku.

        "bye bye honey...." takaki-sama dengan santainya memberi kiss bye pada okaa-chan.

        "okaa-chan tatsuketekudasai....anakmu yang kece ini di culik" aku merengek seperti bocah 10tahun.

        "jangan lupa bawa oleh-oleh untuk okaa-chan" okaachan hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.

        "nani are......" -- "turunkan aku...." aku menggeliat di pundak takaki-sama. "anda akan di kira sebagai penculik"

        "jangan meronta seperti itu...aku kan tidak berbuat jahat dai-chan. lagipula mana ada yang percaya penculik terang-terangan seperti ini." takaki-sama tertawa licik.

        Semua orang menatapku aneh sekarang, aku hanya bisa berteriak meronta-ronta dan menutup majahku yang sudah merah seperti kepiting rebus. Dan dengan santainya dia melemparku ke dalam Limousin seperti bantal.

        "itteeeeeeeeeeee" aku mengaduh kesakitan, tidak sengaja kepalaku terpentok pintu mobil.

        BRAKKKKK

        "jalan" ucapnya pada supir. lalu menutup gorden agar sang supir tidak melihat kami berdua.

        "apaan sih kan sa........." dengan cepat aku mengambil botol minuman dan memasukannya kemulut takaki-sama.

        PLOK*

        "apaan ....aku kan tidak berbuat aneh-aneh"

        "aku sudah tau kebiasaan direktur yang senang sekali menciumku tiba-tiba" ucapku dengan bangga.

        "harusnya kau senang di cium pria tampan sepertiku" aku hanya bisa menyipitkan mataku. (-_-)

        "sudah ku bilang aku hanya mau berciuman dengan perempuan titik" ucapku tepat mengenai sasaran sepertinya. Takaki-sama terdiam. ia menundukan kepalanya. "dire.....

        "sepertinya aku mencium bau aneh"

        "hah??"

        "dai-chan kau bau..., kau belum mandi yak" teriaknya dan langsung menutup hidungnya.

        "ini gara-gara direktur yang tiba-tiba membawaku. aku belum mandi dan makan pagi. Lagipula ini hari aku ingin sepuas-puasnya tidur"

        "untuk hari ini aku perlu bantuanmu, dan hari ini panggil aku yuya, jangan sekali-sekali memanggilku direktur" aku mengerutkan keningku. "Tenang saja....aku akan membayarmu di muka setelah kau selesai menemaniku. Anggap kau sedang kerja sampingan" ucapnya dengan santai.

        "enak sekali orang berduit seperti direktur. Bisa menyuruh dan mengatur orang dengan seenaknya hanya dengan uang" sindirku padanya.

        "tidak juga...buktinya aku tidak bisa membeli hati seseorang" ucapannya kali ini membuatku terkejut. Tapi apa dia sedang mulai menggodaku. Semakin lama, aku semakin tidak mengerti sifatnya.

        CEKLEK#
     
        "kita sudah sampai...."

      "tunggu...direktur...aku belum mandi..kau yakin akan membawaku yang masih memakai piyama seperti ini??" aku kelabakan,

        "aku lupa" ucapnya dengan santai. "ganti saja di mobil ini. aku sudah siapkan baju. kau ganti saja, itu ada di dalam kantong belanjaan yang baru ku beli tadi" aku melihat kemana tangannya menunjuk. akupun meraih bungkusan itu. "kenapa anda masih di dalam mobil??" tanyaku dengan curiga.

        "kita kan sama-sama laki-laki. Tak masalah bukan aku melihatmu berganti" ucapnya dengan wajah mesum.

        "dame......aku tidak mau sampai di lihat oleh direktur mesum sepertimu" ucapku dengan ketus.

        "haik haik haik...." iapun menuruti ucapanku dan pergi keluar dari mobil.

         kubuka pelan-pelan jendela mobil. "anda benar-benar mengerjaiku" aku memonyongkan bibirku.

        "apa maksudmu??" takaki-sama berpura-pura tidak mengerti maksudku. Karena kesal akupun keluar mobil.

        "kenapa anda menyiapkan sebuah gaun perempuan" protesku.

        "kau manis sekali dai-channn...tunggu pakailah jepit ini, kau terlihat semakin cantik" ucapnya dengan wajah sumringah.

        "berhentilah mengerjaiku . aku mau pulang" ucapku dengan marah. Dan mengambil piyamaku.

        "memang kau tahu jalan pulang" akupun menghentikan langkahku. dan pelan-pelan berputar menatap takaki-sama.

        "direktur benar-benar membuatku seperti mainan" rengekku dengan pasrah.

        "sudah kubilang aku tertarik padamu. Berhentilah berpikiran aneh tentangku. ikuzzzzzzoooo" ia menarik tanganku.

        "haik haik..." kenapa aku menjadi penurut sih. "ini dimana direktur??" tanyaku dengan bingung.

        "yuyan....wakarimashitaka" ucapnya.

        "baik YU-YAN" ucapku dengan manis. dan ketika ia berbalik, aku hanya bisa berkomat-kamit dibelakangnya.

        Aneh rumah siapa ini?? heee...mungkinkah rumah takaki-sama?? tapi untuk apa dia mengajakku ke rumahnya. Terlihat seorang pelayan wanita tua bersama seorang anak perempuan cantik keluar dari rumah. Dan ketika melihat kita berdua yang baru datang gadis itu berlari kearah kita berdua.

        "siapa gadis itu??" bisikku padanya.

        "kau juga akan tahu" bisiknya padaku.

        "yuya-kun.....kenapa hari minggu keluar rumah, aku menunggumu lama sekali" ucap gadis itu.

        "ooo" ucap takaki-sama dengan singkat.

        "siapa gadis yang yuya-kun bawa???" tanyanya dengan menatapku sinis.

        "maaf sebelumnya aku ini bukan......

        "boku no koibito"

        "heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee" aku dan gadis itu berteriak bersama-sama seperti paduan suara.

        "ini pasti bohong.......gadis pendek dan bulat itu tidak mungkin pacarmu" teriaknya.

        Enak sekali gadis itu menjelek-jelekanku yang lucu ini. sebenarnya apa yang terjadi sih.

        "aku akan menemui ayah....dan bilang bahwa kita tidak bisa melakukan perjodohan" ucap takaki-sama.

        perjodohan katanya tadi??

        huaa..yabai yabai...bagaimana kalau takaki-sama menolak perjodohan itu menggunakanku sebagai tamengnya. hueaeaeaea,,,,,,,,,bagaimana ini?? pikiranku bercampur aduk sekarang. Apalagi gadis itu mulai menangis dan menatapku seperti mau memakanku bulat-bulat. dan gadis itupun berlari masuk ke dalam rumah.

        "ikouuuu" ucapnya,

       "aku mau pulangggg" rengekku.

       "untuk kali ini aku benar-benar minta tolong" -- "aku tak bisa menikahi gadis itu maupun gadis lainnya"

       "apa karena anda,,,,,,,,

      "kalau kau mengerti masuklah. dan bantu aku"

+++TBC++++

011

author   : niya_yuuchan
cast        : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated      : Teen
genre     : shounen ai

# # # #

daiki's pov

      "siapa yang sedari tadi takaki-sama sebut??"  ku lihat baik-baik wajah takaki-sama. ketika ia tidur, ia seperti anak kecil. ada setetes air mata keluar dan menetes ke pipinya.

        Tanganku bergerak dengan sendirinya. Ingin sekali ku hapus airmatanya itu. Hanya tinggal beberapa centimeter saja tanganku bisa menyentuh pipinya.

        "akh......" aku terkejut bukan main. Takaki-sama membuka matanya dengan tiba-tiba.

        "apa yang kau lakukan di sini??" tanyanya. aku takut.....melihat raut wajahnya yang marah.

        "aku...aku hanya datang untuk minta tandatangan anda" ucapku dengan gugup sambil menunjukan file-file pada takaki-sama.

        "kau melihat sesuatu lagi yang seharusnya kau tidak lihat??" sindirnya padaku/

        "gomenasai...hontou ni gomenasai...aku benar-benar tidak senga.......

        Takaki-sama menarik tanganku, memotong ucapanku dengan sebuah ciuman. Aku mencoba memberontak, tapi takaki-sama semakin erat memelukku. sesak. aku benar-benar tidak bisa bernapas. nafasku benar-benar tertahan.

        "itu hukuman untukmu" ucapnya sambil melap bibirnya dengan jempolnya. akhirnya aku lepas juga dari jeratannya.

        "kenapa direktur senang sekali membuatku seperti mainan" aku benar-benar marah dengannya. Ia menatapku dengan wajah tenang. padahal tadi aku sempat khawatir dengannya.

        "aku ini seorang gay" aku tersentak dengan ucapannya. Kenapa ia tiba-tiba berbicara seperti itu. "jadi, kau harus terbiasa jika berada di dekatku" aku mengerutkan dahiku. urat-urat pembuluh di kepalaku seperti mau lepas dari kepalaku.

        "aku tidak bertanya. Aku ini hanya bawahan anda saja" ucapku dengan marah. "cepat anda tanda tangani file ini. Aku ingin cepat pulang" aku membentakknya.

        ".........."  takaki-sama menatapku dengan terbengong-bengong.

        "yabbaiii.....apa yang tadi kukatakan" aku membekap mulutku dengan tanganku. "apa aku akan di depak dari pekerjaanku.apa yang harus kulakukan kalau aku menjadi pengangguran. Bagaimana aku harus membayar kontrakan dan juga...kyaaaaaaaaaaa bakadaiiiiiiiiiiiiiii w(OAO)w" aku lepas kendali.

        "fufufuhahahhahahahahahaaha"

        "eh??" (O__O) aku melongo melihat takaki-sama tiba-tiba tertawa.

        "omoshiroi na omae" ucapnya sambil tertawa,

        "lagi-lagi direktur mempermainkanku" --- "sepertinya aku lebih baik mengundurkan diri" ucapku dengan nada lesu.

        "gomen ne" --- "aku tidak akan memecatmu, jadi berhentilah berpikiran yang aneh-aneh"  tapi tetap saja takaki-sama tertawa tidak berhenti.

        "............." aku terdiam. kenapa perasaanku berubah-ubah jika berada di dekatnya. Dia membuatku marah, tapi dengan mudah ia membuatku tidak bisa marah. Dan lagi ia membuatku khawatir, dan membuatku seperti sebuah mainan. Aku benar-benar tidak mengerti apa isi kepalanya.

        "haik..." takaki-sama memberi file yang sudah di tandanganinya. Tapi ia tidak mau melepaskan filenya.

        Cepat-epat aku menutup mlutku dengan tanganku.

        "kau kenapa lagi?? aku tidak akan berbuat apa-apa" ucapannya membuatku ragu.

        "aku tahu jelas kebiasaan anda. Jadi aku harus siap-siap melindungi diriku" ucapku.

        "haha.,....kau benar-benar membuatku terhibur. Sepertinya aku benar-benar menyukaimu" aku membulatkan mataku lebar-lebar. Masih tidak percaya apa yang diucapkannya barusan.

        "sayangnya aku bukan gay" ucapanku membuatnya terkejut.

        yabaaiii....sepertinya ucapanku membuatnya marah. huee....dia semakin dekat menghampiriku...yabai yabai....apa yang akan di lakukannya kali ini. Jangan-jangan.......ia akan menelanjangiku?? hue...yabai kore. mana vas bunga. apa ku pentung saja. Tapi pekerjaanku. sekarang jarak kita berdua hanya 5cm. terlalu dekat. aku bekap mulutku.

        "baiklah....kalau begitu aku tidak akan memaksamu"

        "eh??" aku tak percaya dengan ucapannya barusan.

        "bukankah kau mau pulang?? kenapa masih disini??" --- "hati-hati aku akan menerkamu gaorrrrrr"

        "huaaa....ini aku mau pulang takaki-sama" segera aku mengambil file itu dan keluar dari ruangannya.

Yuya's pov

        Kutatap punggungnya yang kecil itu sampai ia benar-benar tidak bisa kulihat lagi dengan mataku.

        "kenapa aku senang sekali menjaihilinya, apa karena inoo-chan menghilang dariku??"

Kizu tsuita kokoro wo kimi wa ima demo hikizutta mama~~~

        "siapa yang menelponku?? moshi-moshi......akh kau, aku kira siapa...bagaimana?? sudah ketemu??"

        -------

        -------

        "begitu yak,,,kalau kau menemukannya cepat kabari, sedikitpun info tentangnya kau harus laporkan"

        Kumatikan ponselku. Sebenarnya apa alasanmu menjauhiku?? Kalau kau benar-benar ingin berpisah, Tak bisakah aku mendengar alasannya darimu??

        Perasaanku benar-benar kalut sejak kepergiannya. Mungkin benar. Aku harus mencari seseorang agar aku tidak terlalu rindu padamu inoo-chan. Sepertinya aku harus mendapatkan arioka. Hanya dia yang bisa membuatku melupakan sejenak pikiranku pada inoo-chan.

+++++TBC++++
  duet 201012 - 16
author   : niya_yuuchan
cast        : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated      : Teen
genre     : shounen ai

################

daiki pov's

      "apaan sih itu orang..mentang-mentang dia atasan. Bukan berarti bisa melakukan apa saja padaku" setelah aku meninggalkan ruangan takaki-sama. aku hanya bisa marah-marah dan mengacak-acak rambutku dengan kesal.

        "doushite daiki??" aku mengangkat kepalaku. Dan membalikan kepalaku. Ia Teman pertamaku yang ku kenal di kantor ini. Wajahnya kebingungan melihatku yang bertingkah aneh sejak keluar dari ruangan direktur takaki.

        "ano hika. bolehkah aku bertanya soal direktur??" temanku Yaotome hikaru, sangat terkejut dengan pertanyaan yang ku lontarkan.

        "kenapa kau tiba-tiba bertanya?? mungkinkah dia melakukan hal aneh padamu?? atau..." tanyanya dengan ragu-ragu padaku.

        Benar dugaanku, sepertinya dia mempermainkanku saja tadi. ChiKUso~~. Aku benar-benar marah padanya. "bukan begitu maksudku" aku berbohong pada hika, aku tidak mau sampai semua orang yang berada di sini mengetahui apa yang terjadi barusan. "sudahlah lupakan.........aku lupa tadi ingin bertanya apa" aku membalikan tubuhku lagi. membelakangi hika yang masih penasaran denganku,

        "kau yakin daiki?? mungkin saja aku bisa membantumu??" aku menggeleng-gelengkan kepalaku tanpa melihat ke arah hika. Aku tak mau mengingat kejadian tadi. Aku anggap itu hanya kecelakaan.

        ya...sebuah kecelakaan.

        Aku mulai melanjutkan lagi pekerjaanku. Kubuka layar laptopku. Belum ada satu kalimat, kejadian tadi terus membayangi pikiranku. Kupegangi bibirku yang masih terasa panas karena ciuman tadi.

       kenapa???

       kenapa ciuman pertamaku harus dengannya. Tapi tadi aku untuk beberapa saat menikmatinya. Bibirnya begitu lembut, seperti aku sedang memakan sebuah es krim.

        "HUAAAAAAAAAAA..BAKAAAAAAAA...KENAPA DENGANKUUUUU"

        "daiki?? kau yakin baik-baik saja??" aku terkejut. Tanpa sadar aku membuat orang-orang memperhatikanku.

        "maaf...mungkin karena aku belum minum obat...hehehehe"setelah mengucapkan itu. aku menunduk meminta maaf karena membuat semua menajdi terkejut, hika masih menatapku,

        "aku tidak apa" aku mengangkat tanganku dan membentuk huruf O... agar hika kembali lagi mengerjakan pekerjaanya.

    \(  ^O^)/\(^O^  )/\(  ^O^)/\(^O^  )/\(  ^O^)/\(^O^  )/
    Keesokan harinya. Aku memilih tetap bekerja.
    Tak selang berapa lama, dari kedatanganku. Takaki-sama keluar dari ruangannya, Ketika ia keluar dari ruangannya, ia seperti mencari sesuatu ke kiri ke kanan seperti orang kebingungan.

      "apa yang sedang ia cari??" pikirku. Aku menghentikan pekerjaanku, menatap ke arah Takaki-sama berdiri.

        Mata kami berdua bertemu. segera dengan cepat aku menundukan kepalaku. Aku mulai mengetik dengan tangan yang masih bergetar. Semakin lama tanganku melambat. Kepalaku ku angkat pelan-pelan.

        yabaiiiiiiiii yo~~~

        Kenapa Takaki-sama masih berdiri disana?? terlebih lagi dia menatapku lalu tersenyum. Lalu masuk lagi keruangannya.

      "apa yang dilakukan direktur tadi??" aku terus bertanya-tanya pada diriku. Lagi-lagi aku mulai aneh.

        ingat arioka daiki, kemarin orang itu berbuat seenaknya padamu.
           
    Aku benci orang itu......pokoknya aku benci dan marah. Aku terus meyakinkan diriku sendiri.
\(  ^O^)/\(^O^  )/\(  ^O^)/\(^O^  )/\(  ^O^)/\(^O^  )/

        Aku melihat jam yang berada di tanganku.

        "ternyata sudah sesore ini" ------ "kenapa anak baru sepertiku mendapat lembur sih" aku memonyongkan bibirku. Kubereskan semua meja kerjaku.

        Sebelum pulang aku harus mendatangani dokumen yang baru ku kerjakan barusan.

        "menyebalkan...tak bisakah besok saja?? bagaimana dia berbuat macam-macam lagi seperti kemarin??"

        "haaa~~~~~~~~~" aku menghela nafas panjang.

        Sekarang aku berada di depan ruangannya. Ragu-ragu. Takut. Kewajiban.  semuanya bercampur aduk perasaanku.

        Tok..tok...tok

        Belum ada sahutan sama sekali. Aku takut kalau aku melakukan seperti kemarin. KEjadian kemarin akan terulang.

        Tapi aku ngin sefera pulang.

        Haaaa~~~~~~~~~

        Lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Membuat energiku terbuang sia-sia. Tak peduli apa yang akan terjadi, Aku membuka pintu ruanan Takaki-sama.

        "sumimasen..."ucapku ragu-ragu. Pelan-pelan aku masuk ke ruangan itu.

        Kemana orang itu?? kenapa tidak ada seorangpun??. Ku lihat kesekeliling ruangan ini. Pandanganku terhenti ke arah sebuah sofa. Aku terkejut, Takaki-sama saat ini tertidur pulas di sofa itu.

        Aku mendekat ke arahnya. ragu-ragu aku langkahkan kakiku ini. Tapi aku melihat takaki-sama sedang tertidur pulas di sofa.

        "direktur....direktur takaki...." teriakku pelan-pelan.

        "noo..."

        Apa yang di ucapkannya barusan?? Dia mengigau??

        "direktur takaki....kau sudah bangun?? tanyaku ragu.

        "inoo-chan.." aku melihat takaki-sama merintih memanggil nama seseorang.

        "ta....

        "aku rindu padamu inoo-chan" aku terkejut. Takaki-sama meneteskan air mata. Sebenarnya diia sedang bemimpi apa?? dan siaapa orang yang ia sebut sejak tadi.

 

To be continue
cats

author : niya_yuuchan
cast      : Takaki Yuya, Arioka Daiki
rated    : Teen
genre    : shounen ai

###########

Yuya pov's

      "bosann.........~~~ /(=3=)\" kata-kata yang selalu keluar dari mulutku setiap di tengah-tengah pekerjaanku. aku mainkan  kursiku, berputar-putar layaknya seperti aku menemukan sebuah mainan, Sungguh tak lazim laki-laki seumurku masih memainkan sebuah kursi kantor seperti anak TK.

      "wuihhhhhhhhhhhhhhh........ kyaaaaaaa" aku terus mainkan kursiku. sampai aku tidak merasa bosan lagi. aku rentangkan kedua tanganku ke atas membentuk huruf V.

      "ehm....." terdengar suara orang mendeham. segera ku hentikan aktifitas kekanak-kanakanku. aku putarkan posisi kursiku ke depan.

      "kenapa kau tidak ketuk pintu dulu" bentakku. Jujur saja, aku malu bukan main. seorang direktur melakukan hal seperti tadi.

      "bukankah tadi aku mengetuk berkali-kali takaki-sama. mungkin karena anda terlalu sibuk"  aku membulatkan mataku lebar-lebar. Anak laki-laki pendek di depanku ini berani terkekeh dihadapanku. Padahal dia tau aku atasannya.

      "lalu, ada keperluan apa kau kemari" aku bersikap sok cool agar imageku tidak hancur di hadapan bawahanku sendiri.

      "saya butuh tanda tangan anda...BUFffh" anak itu benar-benar menyebalkan. Dia terus menahan agar tidak tertawa. menyumpal mulutnya dengan tangannya. aku menatapnya dengan tajam." sumimasen" arioka menunduk. akupun mengambil pulpenku tanpa melepaskan pandanganku darinya. aku harus menatapnya, agar ia berhenti tertawa.

      "hanya ini saja??" aku menyerahkan file yang sudah ku tanda tangani dengan nada sinis.

      "ariga..." aku menarik lagi file-file miliknya. "to......" iamelanjutkan ucapannya dengan raut wajah kebingungan.

      "kenapa, tidak tertawa?? lebih baik kau tertawa daripada kau tahan-tahan" ucapku dengan menyindir. aku yakin dia akan merasa bersalah setelah aku mengucapkan ini.

      "benarkah boleh??" aku mengangguk dengan tersenyum.

      "eh??" aku baru sadar akan ucapannya barusan.

      "wkwkwkwkwkwkwkw perutku benar-benar sakit gara-gara harus menahan tawa. hik..wkwkwkw hik...wkwkw"

      Mulutku terbuka lebar menatap, ia yang tertawa lepas di hadapanku. Aneh....kenapa anak ini tidak takut padaku. Aku adalah direkturnya, tapi dia malah senang dan tertawa lepas di depanku. Apapun itu, entah kenapa semakin lama, kuperhatikan anak pendek itu tertawa membuat jantungku berdebar kencang. Tak pernah kurasakan perasaan ini sejak lama. Ya....sejak terakhir kali aku di khianati pacarku dulu inoo kei. sejak saat itu, aku tidak mau merasakan apa itu jatuh cinta.

      "gomenasai...saya benar-benar tidak sopan pada anda"  aku melangkahkan kaki ke hadapannya.

      "arioka daiki" ucapku setelah melihat nameTag miliknya. aku yakin dia karyawan baru di sini. Karena pertama kalinya aku melihat anak ini masuk keruanganku. Tapi, aku salut. dia membuatku memperhatikannya.

      "haik" ucapnya. ia merasa bersalah padaku. Tentu saja, ia menundukan kepalanya tanpa berani menatapku.

      "arioka.....

      "ano, takaki-sama. tali sepatumu lepas" ucapnya dengan polos. lagi-agi aku membulatkan mataku bulat-bulat. segera aku melihat ke arah sepatu milikku.

    "sial.........mungkin gara-gara aku tadi membuka sepatu karena kepanasan" ----- " ini kan hanya tali sepatu, bukan masalah besar" ucapku dengan marah. Satuhal yang harus kulakukan adalah memecat anak ini sekarang juga. Kenapa anak menyebalkan seperti ini bisa masuk dan lulus di kantorku. "kau..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. ARioka berjongkok dan mengikat tali sepatuku.

      "tentu saja masalah besar takaki-sama. bagaimana kalau anda jatuh dan terpeleset gara-gara hanya tidak mengikat sepatumu" entah kenapa, arioka mempunyai daya khayal seperti itu.

       "tidak mungkin itu terjadi"----"kau melakukan ini agar aku tidak marah bukan"

       "aku tidak mengerti ucapan anda. Saya melakukannya karena saya tidak ingin anda terluka" ucapnya membuatku terdiam. tertegun dengan ucapannya barusan. "berjaga-jaga itu lebih baik bukan??" arioka tersenyum sangat manis dimataku. yabaiiiiiii jantungku terasa mau copot.

       "arigatou" ucapku singkat.

      "saya permisi"  ucapnya.

       Aku benar-benar tidak merasa bosan beberapa menit tadi. apa karena kepolosan arioka?? terdiam sejenak.

        1 detik

        2 detik

        Belum ada tiga detik aku membalikan tubuhku, lalu berlari ke arah pintu ruangaku. ARioka yang hanya tinggal beberapa centimeter membuka kenop pintu itu.

        BRAKKKKK

       Aku menahan pintu itu agar tidak terbuka. nafasku memburu dengan cepat.

      "takaki-sama membuatku terkejut" aku mengatur nafasku agar beraturan. Entah karena kerasukan setan apa. Tanpa sadar aku mendorongnya ke pintu sehingga dia mengaduh kesakitan karena kepalanya terbentur. "itte.....ada apa ta..."

      Aku menutup mulutnya dengan menciumnya. melimat bibirnya yang kecil.

      "mfmfmf " arioka berusaha meronta agar aku mau melepaskannya. Tapi, aku terus menekan bibirku, hingga dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. hinga arioka mengeluarkan semua tenaga, dan akupun melepaskannya. Nafasnya memburu karena tak bernafas sama sekali pada saat ku cium. "apa yang anda lakukan" arioka merengek seperti halnya perempuan.

      "anggap saja tutup mulut. Karena kau berani melihat hal yang harusnya kau tidak boleh lihat"

      "tapi tidak seperti ini" arioka segera membuka pintu dan menutupnya kembali. aku berdiri.

      apa yang lakukan barusan??

      tidak mungkin aku jatuh cinta pada ank yang baru ku lihat beberapa menit saja.

      ya...aku yakin ini karena aku bosan atau karena marah dia melihat tingkah kenak-kanakanku.

      aku memegang bibirku. mendalami semua perasaan yang ada di hatiku. aku berusaha menutupi perasaanku. aku membohongi diriku sendiri. aku...........

      "arioka daiki"------------"aku akan menjadikan kau milikku"




To be continue